Ø Identifikasi Ujian Diri




Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahirabbil'alamin.

Astaghfirullahal'adzim.

Hari ini adalah salah satu hari terburuk dalam hidupku. Astaghfirullah. Hari yang paling kelam bagi otak dan jantung. Astaghfirullah. Semua rasa negatif merasuk dalam hati. Astaghfirullah. Sedih, sedih, sedih, kecewa berat, kesal super, marah, depresi, frustasi, super duper stres, malu, ragu, bingung, dan segala macamnya ada di hari ini, bagiku. Astaghfirullah. Yang membuatnya bertambah bukannya berkurang adalah tak ada satupun manusia yang peka terhadap yang terjadi padaku hari ini. Astaghfirullah.

Hari ini adalah bukti kejelekanku. Kejelekan ikhtiar-ikhtiar yang kukerjakan, niat-niatan yang kupertahankan, serta sikap-sikap yang kuperjuangkan. Tapi bisa jadi bukanlah hanya kejelekan yang ada pada diriku, yang pasti mereka-mereka ini keluar pada hari ini. Menekan batinku, memojokkan hatiku, mengganggu pikiranku, merusak diriku. Hasil yang merupakan urusan Allah, menjadi zhahir hari ini. Dan itu yang paling kubenci, mungkin. Kalau tak ada manusia lain mungkin saja aku takkan benci. Karena yang kubenci bukanlah hasil yang kuterima, namun hasil-hasil itu yang diutamakan kebanyakan manusia.

Hari ini adalah puncak kesedihanku selama periode satu semester. Kebingunganku yang tak pernah memudar. Walau orang bijak yang kukenal sekalipun menasihatiku, itu tak memberi pengaruh yang besar terhadap diriku. Tapi sejatinya memang tidak akan pernah, karena diriku sendiri yang bisa memberi pengatuh besar terhadap pribadi ini. Walau sebenarnya aku ingin, ingin ada yang peduli. Ada manusia, walau seorang pun, yang peka, yang ingin membantuku dengan seluruh tenaganya. Setidaknya, tahu apa yang menjadi masalahku sebenarnya, tahu apa yang kuinginkan, tahu seperti apa diriku sekarang. Namun, sampai saat ini belum kutemukan, satu orang pun.

Ingin aku mengeluarkan semua uneg-unegku pada dunia. Ingin kusemplakan tuturan-tuturan dari otak dan hatiku. Ingin kupekikkan vokal-vokal dari lidahku. Tapi bahkan aku tak seberani itu. Aku hanya bisa diam termangu menggigit bibir. Melelehkan air yang terisak dari mata. Menjerit sekeras-kerasnya dalam batin tanpa ada satu pun yang tahu, selain aku sendiri. Menatap ke langit biru, ia pun ikut menangis, membanjiri tanaman dan segala apa yang ada di bumi. Semakin sedihlah diriku yang malang ini.

Malangnya diriku. Atau malangkah diriku? Anugerah yang diberikan oleh Allah salah satunya ialah mengidentifikasi ujian. Inikah ujianku? Atau inikah ujian? Aku tak menyangka. Atau sebenarnya seratus persen aku telah menyangkanya dari awal. Pertikaian batin antara aku tahu dan aku tak mau. Aku tahu ini ujian. Tapi... beberapa bagian dari diriku tak mau mengakuinya. Entah karena beratnya ujian ini bagi diriku, atau memang karena aku yang begitu lemahnya selama ini. Sebegitu pengecutnya diri ini, sampai hanya mentok selalu pada identifikasinya saja. Walau sebenarnya aku bisa bersyukur hanya karenanya.

Di antara identifikasi ujian diri, aku hanya bisa berpikir mengenainya. Aku punya dua pilihan. Maju atau mundur. Berdo'a atau mengeluh. Kembali berdiri atau berhenti. Dan yang paling penting (mungkin) adalah berprasangka baik ataukah buruk, kepadaNya. Ketika aku mulai tuk berprasangka baik, tiba-tiba saja, mendadak tanpa peringatan, datang berbagai macam ujian lagi, datang bertubi-tubi. Datang manusia-manusia mainstream yang bisanya hanya melakukan satu hal. Berkomentar. Aku tahu itu hanya cobaan. Tapi memang begitu berat dorongannya, sampai tersering aku goyah karenanya.

Dorongan yang begitu kuat, selalu datang dari Allah sendiri. Manusia jarang sekali memberi dorongan yang sangat kuat, katakanlah nekat. Mungkin karena ia yang memberi dorongan, bahkan kadang tak sanggup untuk menerimanya. Karena itu, momentum terkuat, yang besarnya infinity atau tak terhitung, pasti hanyalah berasal dari Sang Pemberi Kekuatan.

Terakhir, evaluasi dan solusi. Aku tahu beberapa hal yang salah dari diriku, dan yang lebih kutahu adalah aku belum menemukan keberanian untuk mengubahnya, salah satu alasannya adalah aku belum menemukan kekuatan untuk melakukannya, yang mungkin bisa kudapat dari momentum Ilahi. Mentorku berkata untuk berani, tapi aku bingung. Seperti apa berani yang bisa kulakukan, aku belum mengetahuinya. Tapi aku benar-benar ingin. Dan memang kutahu pula bahwa salah satu hal penting yang benar-benar diri ini perlu adalah keberanian.

Bismillah. Aku sadar aku lemah. Aku sadar bergantung pada ciptaanNya yang juga lemah itu agaknya percuma. Aku sadar kekuatan hanya berasal dariNya. Karena itu, aku ingin mencoba tuk berdo'a, meminta ampun atas segala kesalahanku, dan memohon untuk kekuatan yang bisa mempertahankanku di jalanNya. InsyaAllah.



Ø Identifikasi Ujian Diri Ø Identifikasi Ujian Diri Reviewed by max on 19.32.00 Rating: 5

1 komentar:

  1. Orang Awam yang Lain30 Desember 2014 pukul 18.55

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S 2:216)

    BalasHapus

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.