Jadi mentor? Hmm... perlu berapa kali berpikirkah hal seperti ini?
...
Bagi segelintir orang, menjadi mentor bukanlah hal biasa. Mudah saja bagi para adik mentor untuk mengikuti mentoring, tapi menurut saya tidak sebaliknya, dan memang jelas. Berapakah jumlah mentor, dibanding mentee (adik mentor)? Tak mungkin jumlah mentor melebihi mentee-nya.
Ada tiga hal yang ingin saya bahas di sini:
1. Dakwah
Dakwah. Artinya mengajak kepada kebaikan. Memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ia adalah suatu kewajiban seorang Muslim kepada Muslim lainnya. Semua Muslim adalah da'i sebelum ia menjadi yang lain. Hakikatnya bukanlah menggurui orang lain. Melainkan sejatinya selain mengajak orang lain kepada kebenaran, juga sekaligus mengajak diri sendiri untuk terus membenahi.
Analoginya sederhana. Ketika kita menunjuk orang lain, lihatlah. Hanya satu jari yang menghadap ke orang lain itu, sedangkan jari-jari sisanya menghadap ke siapa lagi kalau bukan kepada diri kita sendiri. Itulah hakikat dakwah yang sebenarnya. Contoh simpelnya adalah menjadi mentor di LDS atau dimanapun. Ketika kita berkata bahwa kita belum siap untuk menjadi mentor, itu sama saja dengan mengatakan bahwa kita belum siap untuk membenahi diri sendiri.
Ketika kita mengingatkan orang lain, sebenarnya itu adalah berlipat-lipat kali peringatan bagi diri kita sendiri. Bisa jadi memotivasi kita, menambah semangat kita, untuk terus beramal dan beristiqamah di dalamnya, dan bonusnya adalah orang-orang yang kita ajak juga bisa mengikuti kita. Tentu dakwah bukan sekedar mengajak, bukan memberi peringatan kepada orang lain dengan ucapan. Dakwah lebih dari itu. Jadi teladan dalam sikap, adalah yang utama. Rasul menjadi Al-Amin dengan akhlaknya, dan itulah dakwah yang terbaik. Bukannya memberitahu namun menunjukkan. Dengan begitu, yang melihat bisa sendirinya mengikuti dengan senang hati, berbeda dengan mendengarkan ocehan-ocehan kita.
2. Tarbiyah
Tarbiyah artinya tumbuh. Biasanya, ketika kita berdakwah kepada teman-teman kita, mad'u-mad'u kita, atau siapapun, seringkali kita terlalu menuntut untuk melihat hasil akhir yang kita inginkan. Seringkali kita dibutakan oleh keinginan yang ideal bagi kita. Janganlah, kawan. Jangan selalu melihat yang terbaik bagi orang lain di pandangan kita adalah yang terbaik baginya. Kita ingin dia seperti ini dan itu, tapi sebenarnya itu tak bisa kita atur. Kita hanyalah sebuah perantara, yang Allah berikan kepada mereka. Bukan pengubah hati, maupun pemberi hidayah.
Tarbiyah itu tumbuh, saudaraku. Sejatinya, pengaruh yang kita bisa berikan sangatlah kecil, sangatlah sedikit kepada seseorang yang kita dakwahi dibanding dengan pengaruh yang bisa ia berikan kepada dirinya sendiri. Tidaklah kita berperan dalam perjalanannya mencari ilmu dan hidayah melainkan hanya sedikit sekali. Sekali lagi mari kita resapkan hal ini, bahwa kecil sekali peran kita bagi mereka. Kecil sekali.
Tapi semua itu bukan berarti kita bisa duduk diam menonton mereka yang perlahan demi perlahan menjauhi Islam. Bukan bermakna kita tak saling menjaga, mencegah teman-teman kita dari kemaksiatan. Tapi sejatinya, kita akan terus istiqamah senantiasa tulus dalam berpesan, mengingatkan sesama saudara kita, bahwa kita mencintai bagi saudara-saudara kita apa yang kita cintai bagi diri kita sendiri, berupa kenikmatan iman dan Islam yang kita bisa rasakan ini, tanpa memaksakan teman-teman kita itu untuk berubah sesuai yang kita inginkan. Itu sepenuhnya urusan mereka. Urusan kita adalah terus menasehati dengan cara yang mereka senangi, terus memberikan stimulus bagi mereka. Selebihnya, adalah kendali mereka penuh tanpa campur tangan kita.
Tarbiyah pula butuh proses. Kita tak bisa memaksakan kehendak untuk melihat hasil akhirnya saja. Kita harus bisa menghargai perubahan mad'u kita dari tahapan-tahapan yang mereka lalui dengan sabar. Itu juga sudah cukup. Yang ingin kita lihat adalah sebuah Δ (delta). Lambang dalam Fisika yang berarti 'perubahan nilai'. Yang kita perlukan hanyalah sebuah perubahan nilai tersebut. Nantikan keindahannya dalam melalui tahap demi tahap perubahan, walau hanya berupa langkah-langkah kecil saja.
3. Pencairan
Seiring berjalannya waktu, semakin dewasa diri, semakin ramai penghuni cerita kehidupan kita. Apalagi di dunia kampus kata mentor saya. Di sana kita akan menemukan berbagai macam tipe manusia dengan latar belakang yang berjumlah tidak sedikit. Karena itu, sudah merupakan sebuah kewajiban bagi kita dua hal sebagai pendakwah. Satu, mencairkan diri kita untuk masuk ke dunia objek-objek dakwah kita. Dua, membangun benteng, perisai, tameng hati kita sendiri agar tidak tercampur dengan mereka.
Fase ini pasti akan terlewati bagi kebanyakan orang. Masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang berbeda dari kita. Dengan akhlak-akhlak manusia yang takkan bisa disebut sama. Tapi bukan berarti kita tak bisa bergaul dengan mereka, berkegiatan bersama mereka. Tugas kita adalah terjun ke dalam lingkup dunia itu, tapi juga tugas kita untuk tidak tercampuri oleh warna-warna yang gelap. Kalau tameng kita lemah, kita akan tercampuri. Tetapi kalau tameng itu kuat, takkan ada yang bisa menodai kita sedikitpun.
Tameng itu berupa keimanan. Iman yang kuat, dapat mengkoridorkan hawa nafsu yang ganas. Seringkali terasa keinginan untuk berbaur dan bercampur dengan orang-orang bebas di antara kita. Orang yang mengandalkan hawa nafsunya saja, tentu akan tercampuri dengan mudahnya dengan segala yang ada di lingkungan tempat ia beraktivitas. Berbeda dengan orang beriman yang kuat, ia akan memilih dan memilah apa-apa yang dapat ia ambil dari lingkungannya, sembari menebarkan apa-apa yang ada di dalam dirinya sendiri, kalau bisa dengan cara yang dapat diterima dengan mudah oleh orang-orang di sekitarnya itu.
...
Maka dari itu, kesegalaan ini berupa sebab akibat yang tak bisa dikesampingkan. Terkadang kita lupa, membina orang lain sejatinya membenahi diri pula. Mungkin kita lupa, bahwa tumbuh adalah hasil yang perlu untuk diperhatikan lebih dalam. Iya kita lupa, tugas kita bukan hanya bergaul dengan orang-orang lain seenak hawa nafsu kita saja. Melainkan dipenuhi dengan niatan kasih dalam dekapan ukhuwah yang cinta pada saudara-saudaranya dan diiringi do'a indah yaitu membersamai mereka di SurgaNya kelak. Aamiin.
Ada tiga hal yang ingin saya bahas di sini:
- Dakwah
- Tarbiyah
- Pencairan
1. Dakwah
Dakwah. Artinya mengajak kepada kebaikan. Memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ia adalah suatu kewajiban seorang Muslim kepada Muslim lainnya. Semua Muslim adalah da'i sebelum ia menjadi yang lain. Hakikatnya bukanlah menggurui orang lain. Melainkan sejatinya selain mengajak orang lain kepada kebenaran, juga sekaligus mengajak diri sendiri untuk terus membenahi.
Analoginya sederhana. Ketika kita menunjuk orang lain, lihatlah. Hanya satu jari yang menghadap ke orang lain itu, sedangkan jari-jari sisanya menghadap ke siapa lagi kalau bukan kepada diri kita sendiri. Itulah hakikat dakwah yang sebenarnya. Contoh simpelnya adalah menjadi mentor di LDS atau dimanapun. Ketika kita berkata bahwa kita belum siap untuk menjadi mentor, itu sama saja dengan mengatakan bahwa kita belum siap untuk membenahi diri sendiri.
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Q.s. Ash-Shaff [61]: 2-3).Teman-teman. Firman Allah itu memang bisa begitu menghardiknya bagi pribadi-pribadi kita. Namun, ia juga bisa menjadi dorongan bagi siapa saja yang berprasangka baik kepada Allah dan dirinya sendiri, dengan niat tulus untuk selalu memperbaiki diri. Ayat yang turun itu bukan mengatakan kepada kita, kalau gitu nggak usah dakwah aja, toh aku belum melakukan ini dan itu. Bukan itu, teman-teman. Sekali lagi itu bisa kita jadikan sebagai dorongan untuk diri kita masing-masing, bahwa sejatinya berdakwah adalah merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri selagi mengajak orang lain juga.
Ketika kita mengingatkan orang lain, sebenarnya itu adalah berlipat-lipat kali peringatan bagi diri kita sendiri. Bisa jadi memotivasi kita, menambah semangat kita, untuk terus beramal dan beristiqamah di dalamnya, dan bonusnya adalah orang-orang yang kita ajak juga bisa mengikuti kita. Tentu dakwah bukan sekedar mengajak, bukan memberi peringatan kepada orang lain dengan ucapan. Dakwah lebih dari itu. Jadi teladan dalam sikap, adalah yang utama. Rasul menjadi Al-Amin dengan akhlaknya, dan itulah dakwah yang terbaik. Bukannya memberitahu namun menunjukkan. Dengan begitu, yang melihat bisa sendirinya mengikuti dengan senang hati, berbeda dengan mendengarkan ocehan-ocehan kita.
2. Tarbiyah
Tarbiyah artinya tumbuh. Biasanya, ketika kita berdakwah kepada teman-teman kita, mad'u-mad'u kita, atau siapapun, seringkali kita terlalu menuntut untuk melihat hasil akhir yang kita inginkan. Seringkali kita dibutakan oleh keinginan yang ideal bagi kita. Janganlah, kawan. Jangan selalu melihat yang terbaik bagi orang lain di pandangan kita adalah yang terbaik baginya. Kita ingin dia seperti ini dan itu, tapi sebenarnya itu tak bisa kita atur. Kita hanyalah sebuah perantara, yang Allah berikan kepada mereka. Bukan pengubah hati, maupun pemberi hidayah.
Tarbiyah itu tumbuh, saudaraku. Sejatinya, pengaruh yang kita bisa berikan sangatlah kecil, sangatlah sedikit kepada seseorang yang kita dakwahi dibanding dengan pengaruh yang bisa ia berikan kepada dirinya sendiri. Tidaklah kita berperan dalam perjalanannya mencari ilmu dan hidayah melainkan hanya sedikit sekali. Sekali lagi mari kita resapkan hal ini, bahwa kecil sekali peran kita bagi mereka. Kecil sekali.
Tapi semua itu bukan berarti kita bisa duduk diam menonton mereka yang perlahan demi perlahan menjauhi Islam. Bukan bermakna kita tak saling menjaga, mencegah teman-teman kita dari kemaksiatan. Tapi sejatinya, kita akan terus istiqamah senantiasa tulus dalam berpesan, mengingatkan sesama saudara kita, bahwa kita mencintai bagi saudara-saudara kita apa yang kita cintai bagi diri kita sendiri, berupa kenikmatan iman dan Islam yang kita bisa rasakan ini, tanpa memaksakan teman-teman kita itu untuk berubah sesuai yang kita inginkan. Itu sepenuhnya urusan mereka. Urusan kita adalah terus menasehati dengan cara yang mereka senangi, terus memberikan stimulus bagi mereka. Selebihnya, adalah kendali mereka penuh tanpa campur tangan kita.
Tarbiyah pula butuh proses. Kita tak bisa memaksakan kehendak untuk melihat hasil akhirnya saja. Kita harus bisa menghargai perubahan mad'u kita dari tahapan-tahapan yang mereka lalui dengan sabar. Itu juga sudah cukup. Yang ingin kita lihat adalah sebuah Δ (delta). Lambang dalam Fisika yang berarti 'perubahan nilai'. Yang kita perlukan hanyalah sebuah perubahan nilai tersebut. Nantikan keindahannya dalam melalui tahap demi tahap perubahan, walau hanya berupa langkah-langkah kecil saja.
3. Pencairan
Seiring berjalannya waktu, semakin dewasa diri, semakin ramai penghuni cerita kehidupan kita. Apalagi di dunia kampus kata mentor saya. Di sana kita akan menemukan berbagai macam tipe manusia dengan latar belakang yang berjumlah tidak sedikit. Karena itu, sudah merupakan sebuah kewajiban bagi kita dua hal sebagai pendakwah. Satu, mencairkan diri kita untuk masuk ke dunia objek-objek dakwah kita. Dua, membangun benteng, perisai, tameng hati kita sendiri agar tidak tercampur dengan mereka.
Fase ini pasti akan terlewati bagi kebanyakan orang. Masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang berbeda dari kita. Dengan akhlak-akhlak manusia yang takkan bisa disebut sama. Tapi bukan berarti kita tak bisa bergaul dengan mereka, berkegiatan bersama mereka. Tugas kita adalah terjun ke dalam lingkup dunia itu, tapi juga tugas kita untuk tidak tercampuri oleh warna-warna yang gelap. Kalau tameng kita lemah, kita akan tercampuri. Tetapi kalau tameng itu kuat, takkan ada yang bisa menodai kita sedikitpun.
Tameng itu berupa keimanan. Iman yang kuat, dapat mengkoridorkan hawa nafsu yang ganas. Seringkali terasa keinginan untuk berbaur dan bercampur dengan orang-orang bebas di antara kita. Orang yang mengandalkan hawa nafsunya saja, tentu akan tercampuri dengan mudahnya dengan segala yang ada di lingkungan tempat ia beraktivitas. Berbeda dengan orang beriman yang kuat, ia akan memilih dan memilah apa-apa yang dapat ia ambil dari lingkungannya, sembari menebarkan apa-apa yang ada di dalam dirinya sendiri, kalau bisa dengan cara yang dapat diterima dengan mudah oleh orang-orang di sekitarnya itu.
...
Maka dari itu, kesegalaan ini berupa sebab akibat yang tak bisa dikesampingkan. Terkadang kita lupa, membina orang lain sejatinya membenahi diri pula. Mungkin kita lupa, bahwa tumbuh adalah hasil yang perlu untuk diperhatikan lebih dalam. Iya kita lupa, tugas kita bukan hanya bergaul dengan orang-orang lain seenak hawa nafsu kita saja. Melainkan dipenuhi dengan niatan kasih dalam dekapan ukhuwah yang cinta pada saudara-saudaranya dan diiringi do'a indah yaitu membersamai mereka di SurgaNya kelak. Aamiin.
"Bukan membina apabila tak sekaligus membenahi diri. Bukan tarbiyah apabila tanpa tumbuh. Bukan pencairan apabila melupakan tameng iman."
- MSH
Ø Bina Atau Dibina!
Reviewed by max
on
05.14.00
Rating:
Reviewed by max
on
05.14.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..