Bismillahirrahmanirrahim.
Dari betapa banyak alasan, mengapa kita kan mencintai satu orang manusia ini dengan sendirinya, inilah salah satu yang sangat perlu diperhatikan dan dipikirkan dalam-dalam, betapa berharganya hal ini dari seorang laki-laki yang paling tulus di antara yang lainnya.
Saat Malaikat Maut mendatangi pintu rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau sedang bersama Fatimah. Fatimah anak kesayangannya. Kemudian ada ketukan terdengar dari depan pintu. Fatimah yang mencoba melihat tidak mengenalinya, dan menyuruh ia pergi. Kemudian dia kembali ke hadapan ayahandanya. "Siapa dia?" tanya Rasulullah. Kemudian Fatimah menjelaskannya. "Wahai putriku, Dia adalah Malaikat Maut," sahut Rasululllah.
Malaikat Maut tidak akan memberi kita waktu, bahkan kehormatan datang melewati pintu rumah kita. Dia tak peduli dengan pintu kita, anak kita, dia datang dan langsung mengambil nyawa kita. Lihatlah, Rasa hormat sang Malaikat Maut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Di mana Jibril? Kenapa engkau datang kemari tanpa Jibril?" tanya Rasulullah kepada Malaikat Maut. Kemudian Malaikat Maut pun kembali kepada Allah dan menanyakan tentang Jibril. Lihatlah status Rasulullah di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah tidak melakukan yang seperti itu kepada Nabi-Nabi lainnya.
Jibril pun datang. "Ya Rasulullah," sambut Jibril di hadapan Nabi yang mulia, "Apa yang engkau inginkan dariku?" Rasul pun menjawab, "Aku ingin tahu apa hak yang kudapat dari Allah Subhanahu wa ta'ala."
"Hakmu adalah bahwa semua Malaikat, dan semua ciptaan, menunggumu wahai Rasul. Mereka menunggumu dengan tidak sabar untuk datang," jelas Jibril dengan penuh perhatian, "Dan semua gerbang dan pintu surga terbuka untukmu wahai Rasulullah. Kami menunggumu!" Nabi tidak bergerak. "Mengapa engkau tak bergerak, wahai Rasulullah?" heran Jibril.
"Aku ingin tahu status umatku! Bukan aku," tanggap Sang Nabi."
Subhanallah. Inilah seorang manusia yang berada di tempat kematiannya. Dia sedang berada di waktu-waktu terakhir dalam hidupnya. Dan dia bukanlah bertanya tentang dirinya sendiri, dia malah berucap, "Apa status umatku?"
Padahal sedang berada di ambang kematiannnya, beliau tidak memikirkan dirinya sendiri, dia malah memikirkan umatnya! Dia lebih mencintai umatnya daripada dirinya sendiri!
Ketika dicabut nyawa manusia yang paling baik ini, Jibril yang melihat Rasul dalam kesakitan pun segera memalingkan mukanya. "Mengapa engkau berpaling, wahai Jibril?" tanya Rasul. Jibril berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak tahan, menyaksikan kesakitan yang engkau berada di dalamnya. Jadi aku memalingkan wajahku."
"Aku mengerti. Sakitnya sarakatul maut ini benar-benar menyakitkan. Tapi aku ingin kau memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala," pinta Rasul dalam kesakitannya, "Untuk memberikanku, semua kesakitan maut. Dari seluruh umat, dari sekarang sampai yaumul qiyamah."
Itulah kisah, dimana seseorang yang paling mulia, yang paling baik, yang paling berempati, lebih memikirkan umatnya ketimbang diri pribadinya sendiri. Bahkan di ambang kematiannya sekalipun. Dia selalu, dan tetap akan selalu memikirkan umatnya. Apakah kita mampu untuk membalas cinta tersebut? Dan membuktikan bahwa kita pantas menjadi umat seorang yang sangat mulia itu? Mari kita sama-sama tunjukkan balasan cinta tersebut kepada beliau, dengan sebenar-benarnya cinta, setulus-tulusnya kasih, dan sebesar-besarnya penghormatan.
"Muhammad P.B.U.H Was The Greatest Man Ever To Set Foot On This Earth !"
"Manusia yang paling berempati di seluruh dunia adalah Muhammad ibn Abdullah."
- MSH
*referensi :
- http://www.youtube.com/watch?v=Iy6U3CET0cc
Ø Just One Reason
Reviewed by max
on
17.42.00
Rating:
Reviewed by max
on
17.42.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..