Bismillahirrahmanirrahim.
Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang kebeningan prasangka seorang ayah dan anak dalam perjalanan hidupnya. Seorang ayah yang dapat dijadikan teladan bagi keluarganya, anaknya, dan orang-orang di sekitarnya. Dan seorang anak yang patuh taat kepada orangtuanya dengan mengikuti pelajaran dan perjalanan hidup ayahnya yang begitu indahnya terlalui.
***
Kisah ini adalah sebuah sejarah kecil di masa 'Abbasiyah akhir. Ketika itu seorang laki-laki budak telah bebas dari majikannya dengan usahanya sendiri. Tahun demi tahun berlalu sejak ia bebas. Ia yang tadinya seorang budak sekarang telah menikah. Tetapi sang istri meninggal ketika menyelesaikan tugasnya, menyempurnakan susuan sang putra hinga usia dua tahun. Dibesarkan putera semata wayangnya itu dengan penuh kasih. Dididiknya anak lelaki itu untuk memahagi agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap ksatria dan berjiwa merdeka.
Sang ayah mulai bercerita kepada anaknya. "Ketahuilah anakku," lanjutnya, "Seorang yang syahid di jalan Allah itu hakikatnya tak pernah mati. Saat terbunuh, dia akan disambut oleh tujuh puluh bidadari. Ruhnya menanti kiamat dengan terbang ke sana-kemari dalam tubuh burung hijau di taman surga, dan diizinkan baginay memberi syafa'at bagi keluarganya. Mari kita rebut kehormatan itu, Nak, dengan berjihad lalu syahid di jalanNya!"
Sang anak mengangguk-angguk.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah kantung berpelisir emas. Demi kesyahidan yang mereka impi-impikan, mereka pergi ke pasar untuk segara membeli yang terbagus dengan harta terbanyak, untuk dipersembahkan dalam jihad di jalanNya.
Siangnya, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam. Kuda itu gagah. Surainya mekar menjumbai. Tampangnya mengagumkan. Matanya berkilat. Giginya rapi dan tajam. Kakinya kekar dan kukuh. Ringkiknya pasti membuat kuda musuh bergidik. Semua tetangga mengaguminya. Mereka memberi pujian-pujian terhadap apa yang mereka pandang. Tapi kemudian mereka bertanya, "Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?"
Ayah beranak itu tersenyum simpul. Yah, itu simpanan yang dikumpulkan seumur hidup.
Para tetangga ternganga mendengar jumlahnya. "Wah", seru mereka, "Kalian masih waras atau sudah gila?" Kekaguman di awal tadi mulai berubah menjadi cemooh.
"Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah," ujar mereka.''
Para tetangga pulang. Ayah dan anak itu pun merawat kudanya dengan penuh cinta. Bersama-sama menanti panggilan Allah ke medan jihad untuk menjemput takdir terindah.
Sepekan berlalu. Di sebuah pagi buta ketika si ayah melongok ke kandang, dia tak melihat apapun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terkoyak remuk.
Kuda itu hilang!
Berduyun-duyun para tetangga datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Sembari bersimpati, mereka juga menganggap keduanya kelewatan. "Ah sayang sekali!" kata mereka, "Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir sejenak nutuk memnuaskan ambisi kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita-cita kalian!"
Sang ayah tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. "Kami tak tahu," ucap serempak keduanya, "Ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah."
Mereka pasrah. Tetapi mereka tetap bisa kembali bekerja tekun seakan tak terjadi apapun.
Tiga hari kemudian, saat shubuh menjelang, kandang kuda mereka gaduh dan riuh. Terkejut dan terjaga, ayah dan anak itu berlari ke kandang dan mereka temukan kuda hitam milik mereka yang pergi itu! Tetapi ternyata ada belasan kuda lain yang bersamanya. Ketika hari terang, para tetangga datang dengan takjub. Mereka semua mengucapkan selamat pada pemiliknya. "Wah, kalian sekarang kaya raya! Kalian orang terkaya di kampung ini!" Tapi si pemilik kembali hanya tersenyum. "Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah."
Hari berikutnya, ketika sang putra mencoba menaiki salah seekor kuda itu, ia terjatuh. Kakinya patah. Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap anak itu dengan pandangan penuh iba. "Ternyata kuda itu tidak membawa berkah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih beruntung yang tak memiliki kuda, namun anaknya sehat sentausa!"
Tuan rumah tersenyum lagi. "Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah."
Hari berikutnya, hulubalang raja berkeliling negeri. Dia mengumumkan pengerahan pasukan untuk berperang. Semua pemuda yang sehar jasmani dan rohani wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang, perang ini sulit dikatakan sebagai jihad di jalan Allah karena musuh yang hendak dihadapi adalah sesama Muslim. Tentu bukan yang seperti ini yang diinginkan ayah dan anak itu.
Petugas pendaftaran mendatangi tiap rumah dan membawa para pemuda memenuhi syarat. Saat ke rumah ayan dan anak pemilik kuda, mereka mendapati putranya terbaring di tempat tidur dengan kaki terbebat, disangga kayu dan dibalut kain. Sang ayah menjelaskan kepada para petugas. Petugas kemudian pergi karena si pemuda tidak memenuhi syarat sebagai prajurit pasukan perang.
Dan hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi putra-putranya menjadi prajurit mendatangi si pemilik kuda. "Ah, nasib!" kata mereka. "Kami kehilangan anak-anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami melepas mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali atau tidak. Sementara putramu tetap bisa di rumah karena patah kakinya. Kalian begitu beruntung! Allah menyayangi kalian!"
Tuan rumah ikut bersedih melihat mendung di wajah-wajah itu, Kali ini bapak dan anak itu tak tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema, "Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah." Kami hanya berprasangka baik kepada Allah."
Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan isak tangis para istri. Sementara para lelaki hanya termangu dan tergugu. Kabarnya telah jelas. Semua pemuda yang diberangkatkan perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para warga telah belajar banyak dari ayah beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini menggumamkan kalimat indah itu. "Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah."
Singkat kisah, tak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenarnya bergema. Pasukan mongol dipimpin Hulagu Khan menyerbu wilayah Islam dan membumihanguskannya hingga rata dengan tanah. Ayah dan anak itu pun menyongsong janjinya. Mereka bergegas menyambut panggilan dengan kalimat agungnya, "Kami tak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah!"
Mereka memang menemui syahid. Tapi sebelum itu, ada selaksa nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka untuk dirasai. Sang anak pernah tertangkap pasukan Mongol dan dijual sebagai budak. Dia berpindah-pindah tangan hingga kepemilikannya jatuh pada Al-Kamil, seorang Sultan Ayyubiah di Kairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan wangsa Ayyubiah di Mesir, kariernya menanjak cepat dari komandan kecil menjadi panglima pasukan, lalu Amir wilayah. Terakhir, setelah wafatnya Az-Zahir Ruknuddin Baibars, dia diangkat menjadi Sultan. Namanya Al-Manshur Saifuddin Qalawun.
***
Inilah sekelumit kisah tentangnya. Qalawun yang berani berprasangka baik dalam segala keterhijabannya dengan takdir Allah. Qalawun yang berani berkata, "Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Tapi kami selalu berprasangka baik kepada Allah!" Seperti kisahnyam, ada berjuta kebaikan mengiringi prasangka baik kita padaNya. Dia setia bersama kita dan melimpahkan kebaikan, karena kita mengingatNya juga dengan sangkaan kebaikan.
Hal serupa ternyata mungkin telah terjadi kepada saya sendiri. Sehari setelah saya membaca kutipan cerita tersebut dalam buku karya Salim A. Fillah yang berjudul "Dalam Dekapan Ukhuwah". Entah iya atau bukan, saya tidak terlalu peduli dengannya. Yang penting saya ingin merasakan, dan saya pribadi mungkin telah merasakan dan akhirnya bisa mengucapkannya dengan ikhlas insyaAllah, "Aku nggak tau ini rahmat atau musibah. Aku cuma berbaik sangka kepada Allah... :))"
Ø Sebening Prasangka
Reviewed by max
on
08.39.00
Rating:
Reviewed by max
on
08.39.00
Rating:
.jpg)
Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..