Ø Kepercayaan Seorang Sahabat (Revision Version)

Serial "Kepercayaan"


Kepercayaan Seorang Sahabat (Revision Version)


By : MSH

***

"Oi, Anon. Ngapain di sini? Pergi sana!"

"Iya nih, kayak yang punya teman aja."

Namaku Anon. Dulu aku punya banyak sekali teman yang bisa kuajak bermain bersama, tetapi sekarang tidak lagi. Mereka semua satu per satu meninggalkanku. Sejak saat itu pun aku sudah tidak pernah bisa mempercayai siapapun lagi. 

Sekarang aku sudah memasuki jenjang SMA. Dan seperti saat pertama kali SMP dulu, aku belum mengenal seorangpun. Karena aku tidak ingin dikhianati lagi, jadi aku memilih untuk tidak berkenalan dengan siapapun. Setiap hari aku hanya duduk di sudut kelas, memandangi arah luar jendela yang terbuka lebar. Entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini.

Waktu berlalu begitu saja. Semua orang di kelas sudah mulai mengenal, dan juga pastinya mempercayai satu sama lain. Seperti yang minta traktir lah, ngerjain PR bersama lah, bermain bola lah, atau yang  lainnya. Sedang aku, masih bisa melakukan semua itu sendirian. Atau lebih tepatnya, tidak ada pilihan lain selain melakukan semuanya sendirian. Seperti yang aku bilang tadi, itu semua karena aku tidak ingin terlalu mempercayai orang lain sampai nanti mereka mencampakkan aku seorang diri. 

Di kelasku ini seperti sebagaimana kelas biasa, terbagi menjadi beberapa grup. Mereka memiliki kepercayaan yang berbeda-beda antar grup masing-masing. Terlihat jelas mana yang termasuk grup mana, mana yang bukan. Dan ternyata, setelah dilihat-lihat hanya ada dua orang yang tidak termasuk ke dalam grup manapun di kelasku. Siapa mereka? Yang pertama ya tentu saja aku sendiri, dan seorang lagi laki-laki bernama Rama. 

"Oi, Rama. Sini dong, main sama kami~," ajak beberapa orang wanita dari grup "centil"`

"Jangan, Bro. Mending kau ke sini, kita keluyuran bareng sore-sore entar!" balas seorang pria macho dari grup yang lebih tepatnya bisa dibilang genk "brandalz".

Rama hanya tersenyum simpul. 

Heh

Ups, tawa anehku keluar. Ya, sudah lama aku tidak melihat yang seperti ini. Sesuatu yang baru. Dan ide itu muncul serta tumbuh dalam benakku. Ia berbeda dari yang lainnya.

Tiap hari aku memperhatikan dirinya tidak terikat oleh satu grup melainkan melakukan pekerjaannya sendiri sepertiku. Akan tetapi, yang berbeda antara dia dan aku adalah dia malah dikenal semua orang, sebagaimana aku sebaliknya. Kalau bisa kubilang, dia lebih pintar dariku, dan jauh lebih baik dariku. Tahu kenapa? Itu karena dia selalu bergaul dengan semua grup, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Dia satu-satunya orang yang pernah membantu jika aku dalam masalah. Dia percaya dengan semua orang, dan sebaliknya semua orang pun percaya kepadanya. Sedang aku seorang diri, dan selalu menutup-nutupi kepribadianku.

Suatu pagi, terlihat seorang murid perempuan digoda oleh lelaki yang nakal.

"Oi, lepaskan tanganmu!" Rama segera membelakangi si wanita dan membentangkan tangannya menghalangi si laki-laki. "Pergi cepat!"

"Cih, Rama toh. Oke kali ini aku mengalah. Tak ada gunanya aku berurusan dengan orang sepertimu."

Si lelaki itu pergi dengan cepat dan langsung hilang seketika dari pandangan Rama dan wanita itu serta aku yang melihat aksinya.

Heh

Aku tersenyum lagi melihatnya. Untuk kesekian kali kulihat hal-hal seperti itu, yang terkadang mengganggu pikiranku entah kenapa. Aku sama sekali tidak tahu alasannya.
Setelah terus-terusan melihat bagaimana Rama bertindak, tentu hatiku pun tergerak. Aku juga ingin jadi seperti dia, pikirku. Dalam pandanganku aku benar-benar merasa dia berbeda dari yang lain. Aku mulai memilih untuk yakin bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati teman-temannya yang sudah dia percayai sebisa mungkin. Jadi aku pun mencoba untuk mendapatkan kepercayaannya terlebih dahulu. 
Aku mendekatinya setiap kesempatan muncul. Kadang-kadang berhasil hingga sampai pada suatu percakapan yang lumayan panjang yang menyenangkan baginya dan bagiku pula. 

Dug.

Seseorang menghentakkan kakinya untuk menjatuhkanku--seperti biasa--dan aku kali ini benar-benar sengaja mengenainya dengan sempurna. 

"Aduh sakit..." Perlahan aku bangun dari jatuhku dan mulai mengelus-elus kaki yang terkena orang yang mem-bully-ku tadi dan berpura-pura merasakan kesakitan yang sangat. "Aw, aw... sss perih sekali ini."

Tahu apa yang terjadi setelahnya? Yang biasanya bisa kuprediksi apa yang akan orang lakukan, tetapi kali ini aku salah, lagi.

"Nih, Non. Maaf kalau kurang besar. Kalau mau, kutemani kamu ke UKS."

Heh

Lagi-lagi. Dia bukannya hanya membantuku berdiri atau memberi kata-kata penyemangat. Melainkan, ia memberi plester yang bagus untuk lukaku dan dia masih bilang itu terlalu kecil. Ditambah si orang ini tidak cuma ingin mengantarku ke UKS, bahkan sampai berniat menemaniku di sana. Duh, aku sudah tidak mengerti lagi mindset orang ini seperti apa sebenarnya. Aku hilang kata-kata untuk mendeskripsikannya. Tapi aku ingin sekali berteman dengan orang seperti ini. Yah, siapa yang tidak?

"Rama, temani aku di UKS yuk," ajakku malu karena ini pertama kalinya sejak sekian lama aku ingin seorang teman membersamaiku berdua.

"Kapanpun, teman." Rama tersenyum lebar.

Sesampainya di UKS, aku mengatakan yang sebenarnya pada Rama. Aku menceritakan kisah hidupku walau memang tak terlalu berlebihan mungkin bagi sebagian orang, hanya saja bagiku itu sangat menekan batin dan menggerogoti perasaan-perasaan yang selalu ada dalam hatiku.

"Kau tahu, Anon. Aku juga dulu sepertimu." Terlihat pipinya memerah karena malu, "Tapi aku memutuskan untuk berubah saat aku sadar dengan sendirinya. Mungkin kau akan sama sepertiku, jadi lebih baik mulailah dari sekarang. Aku akan membantumu, kawan."

Heh.

Bukan hanya tawa yang keluar dari mulutku ketika itu. Ucapannya membuatku menitikkan air mata. Haha, aku bahkan tak tahu kenapa. Atau aku hanya selalu mengesampingkan rasa ini saja sebenarnya. Bahwasanya jauh di lubuk hatiku aku tahu, bahwa...

"Aku ingin seorang teman".

Mulai dari situ aku sudah tidak takut untuk mempercayai orang lagi, khususnya dia. Sudah beberapa bulan aku dan dia menjadi dekat dan menghabiskan waktu bersama sebagai sahabat yang saling mempercayai.

Suatu saat aku pulang sekolah berdua dengan Rama melewati jalanan yang sepi. Tiba-tiba segerombolan preman jalanan bersenjata tajam mendekati kami berdua. Mereka mulai mengelilingi kami dan tanpa basa-basi langsung meminta untuk mengeluarkan semua uang yang kami punya. Tentu saja aku tidak melakukan apa-apa, memangnya siapa yang mau membagikan duitnya ke orang jahat. Sedangkan Rama langsung mengeluarkan dompetnya dan melemparkannya ke tanah. Saat para preman berniat mengambil dompet itu, Rama berbisik padaku, “Lari, panggil polisi!” Aku kaget, tetapi juga sangat takut dan sebenarnya hendak mengkhianati Rama seketika itu juga, tetapi aku memilih untuk mempercayainya kali ini. Secepatnya aku pun berlari menjauhi mereka semua. Para preman kaget dan hendak mengejarku, tetapi langsung dihambat oleh Rama. 

Heh.

Tawaku berubah jadi kesedihan keras. Aku tahu ini takkan berakhir bahagia, karena itu aku berlari secepat mungkin sambil menangis ketakutan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Akhirnya aku sampai di pos polisi terdekat dan menyuruh pak polisi untuk segera ke tempat tadi, tapi ternyata semua sudah terlambat. Saat kami sampai di sana, Rama sudah tergeletak di tanah berlumuran cairan merah yang mengalir dari kepala dan sekujur badannya. Para preman itu sudah tidak ada. Pak polisi pun tidak bisa apa-apa, dan hanya memanggil ambulan untuk membawa Rama ke rumah sakit.

Dialah sahabat, yang dulu ku tak tahu seberapa besarnya nilaimu, sekarang ku hanya bisa menyesali hari-hari tanpamu di sampingku. Kau selalu percaya padaku, bahkan ketika kupalingkan wajahku dengan hati yang membeku. Karena kau telah tiada, sekarang menjadi giliranku, tuk percaya padamu. Sahabatku.

***

Ø Kepercayaan Seorang Sahabat (Revision Version) Ø Kepercayaan Seorang Sahabat (Revision Version) Reviewed by max on 21.09.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.