Ø Iman Kepada Kitab-Kitab Allah




Iman Kepada Kitab-Kitab Allaah

Bismillah wash shalatu was salamu 'ala Rasulillah.

Ya. Mari kita membahas materi penting, yaitu iman, kepada kita-kitab Allaah.

Pertama, kita harus tahu apa hikmah (kalau apa alasan hanya Allaah yang tahu), diturunkannya kitab-kitab oleh Allaah.

Allaah paling senang dengan hujjah. Hujjah itu apa? Hujjah itu alasan-alasan (yang benar).

Ketika seseorang misalnya di muka bumi ini kafir, tapi belum ada satu pun rasul yang diturunkan kepada kaumnya, dan tidak ada satu pun kitab suci yang dia baca, akhirnya dia tidak mengerti Islam sama sekali. Allaah Mahaadil, Allaah tidak akan langsung memasukkan orang tersebut ke neraka.

Tahu ke mana tempatnya?

Ada di hari kiamat empat golongan manusia. Pertama, orang tuli. Kedua orang gila. Ketiga kakek-kakek yang sudah tua renta. Dan keempat adalah orang yang tidak diutus seorang rasul (pemberi peringatan) pun kepada kaumnya. Ini ada di dalam hadits yang hasan atau shahih dalam riwayat Ahmad. 

Kemudian Allaah berbicara dengan orang yang tuli, "Ya Allaah, dulu memang rasul datang kepada kami, tapi aku tuli. Jadi aku tidak bisa mendengar ajaran rasul sedikit pun." Allaah menerima alasan dari orang pertama. Orang kedua bilang, "Ya Allaah, rasul memang datang, tapi aku kan gila. Anak-anak sibuk melempariku kotoran." Yang ketiga bilang, "Ya Allaah, rasul memang datang, tapi aku sudah sangat tua, sehingga aku tidak mengerti apa-apa, aku sudah pikun." Dan yang keempat, "Ya Allaah, tidak ada satu pun rasul yang datang kepada kaumku." Allaah menerima alasan dari empat golongan ini. Akhirnya Allaah mengutus rasul di hari kiamat. Khusus bagi empat kelompok ini. Kemudian rasul ini menyuruh kepada empat golongan manusia ini untuk masuk ke dalam neraka. Kalau mereka mau masuk ke dalam neraka, mereka akan masuk surga. Kalau mereka tidak mau masuk neraka, mereka akan masuk ke neraka yang asli. Mirip dengan ujian Dajjal. Tapi ini bukan ujian Dajjal, ini dengan rasul baru yang Allaah utus.

Allaah itu Mahaadil. Allah itu tidak zhalim kepada hamba-hambaNya. Itu lah yang terjadi ketika di suatu kaum, mungkin di Cina, di pelosokan, badui-badui yang belum datang seorang penceramah pun ke dalamnya. Nanti Allaah kasih mereka tenggang waktu. Allaah Mahabaik.

Nah, Al Quran itu pedoman bagi manusia. Dan Allaah mengutus nabi-nabi dan rasul itu dengan kitab-kitab. Ada kitab yang kita tahu, ada yang tidak kita tahu. Kita imani secara global. 

Misal, ada pertanyaan, "Kitab apa yang diturunkan kepada Isa?" "Injil." "Daud?" "Zabur." "Kepada Musa?" "Taurat." Itu jelas ada dalam Al Quran, kita wajib mengimaninya. Bagaimana mengimaninya? Imani bahwasanya Injil diturunkan ke Isa, Taurat ke Musa, Zabur ke Daud. 

"Kalau nabi-nabi yang lain bagaimana? Kan kita tidak tahu nama-namanya apa..."

Ya tidak perlu tahu, asal kita imani saja. "Oh ya, Allaah turunkan kitab-kitab tersebut kepada nabiNya masing-masing, hanya Allaah yang tahu apa nama kitab tersebut." Tapi yang jelas diberi tahu ke kita adalah tiga tadi, dan yang keempat adalah Al Quran. 

Tapi, untuk kitab Injil, Taurat, dan Zabur, kalau seandainya masih ada original version-nya, tetap kita tidak boleh patuh. Kenapa coba? Karena kitab ini bagi kaumnya masing-masing. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kitab Al Qurannya adalah untuk seluruh dunia. Dan di dalam Al Kitab Injil, Taurat, dan Zabur tercatat, apa? Apa tulisan dalam kitab-kitab tersebut? Bahwasanya nanti akan ada rasul yang namanya Muhammad. Bahkan di kitab orang Hindu, Weda, ada. Jadi mungkin Hindu itu asal-usulnya dari nabi. Kalau kalian dengar ceramah Dr. Zakir Naik, kata beliau ada itu nama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di kitab Weda. Subhanallah.

Jadi di dalam kitab-kitab Injil, Taurat, Zabur, menyuruh mereka kalau suatu saat turun seorang rasul yang namanya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka patuh lah pada dia, ikuti ajaran yang dia bawa. Ajaran Injil, Taurat, dan Zabur tidak sesat. Tapi oleh Allaah disuruh untuk ditinggalkan. Kenapa disuruh untuk ditinggalkan? Karena Allaah tahu Al Quran ini adalah yang lebih baik.

"Kenapa dari dulu tidak diturunkan Al Quran langsung aja?"

Ya terserah Allaah. 

"Kenapa Allaah menurunkannya bertahap, ada Zabur, Taurat, Injil, baru Al Quran?"

Itu kebijakan Allaah. Dan kebijakan Allaah pasti baik. 

Yang jelas, kitab Injil, kita boleh patuh tidak padanya? Walau pun yang original version? Tidak boleh. Karena itu bagi kaum yang dulu. Sedangkan kita sekarang wajib patuhnya sama apa? Al Quran. Itu juga kalau masih ada yang original version, bagaimana yang sekarang coba? Aa' ingin menceritakan betapa buruknya kitab "Injil" (kitab Injil yang asli tidak ada ajaran-ajaran ini), ini kitab yang ditulis oleh orang, kemudian diaku-aku sebagai Injil. Sama juga sekarang banyak orang menulis hadits, dan diaku-aku sebagai hadits padahal bukan hadits. 

Coba bayangkan, di Al Kitab, suratnya tuh Perjanjian Lama. Di situ diberitahu tentang Allaah turun ke bumi, kemudian Allaah bergelut dengan Nabi Ya'qub, dan Ya'qub menang terhadap Allaah. Astaghfirullahal'azhim. Subhanallah. Ini keburukan yang ada di kitab mereka. Kemudian ada lagi ayat tentang Nabi Luth membawa dua orang anaknya (padahal dalam versi Islam ada tiga anak Nabi Luth yang beriman), dua anak itu dibawa ke gua kemudian dua anaknya saling berunding agar mereka bisa berzina dengan Nabi Luth. Na'udzubillahi min dzalik. Terus mereka juga bilang bahwasanya Nabi Sulaiman punya istri banyak kemudian dia suka mabuk-mabukan. Ini lah yang ada di kitab-kitab mereka sekarang. Yang original saja sudah tidak boleh diikuti apalagi yang sudah dibuat-buat. Jelas itu tidak boleh. Jadi kalian jangan bilang kitab yang dipegang orang Kristen itu Injil, itu adalah al kitab buatan mereka. Kita mengimani Injil diturunkan kepada Nabi Isa 100%, tapi kita sudah tidak mengamalkan Injil, melainkan mengamalkan isi Al Quran sekarang.

Nah, ini lah, iman kepada Al Quran. Ini pembahasan yang sangat penting. Sungguh, kalau kita melihat zaman sekarang, kita bakal ingin menangis tapi ingin ketawa juga, lucu-lucu. Kenapa? Karena orang-orang itu, bayangin kalau ada guru Biologi, yang tidak mengerti Fisika sama sekali, suatu saat disuruh mengajar Fisika. Apakah jadi nyambung? Nanti lagi ngajarin Hukum Newton malah dikasih Hukum Mendel, jadi tidak nyambung sama sekali. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak punya background ajaran Islam sama sekali, disuruh mengajarkan Islam ke orang banyak? Pasti dia bakal menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai dengan Quran dan Hadits.

Lihat coba. Pasti kalian sudah baca di Facebook tentang menteri pendidikan. Di kelas 11 itu dijadikan salah satu kurikulum, di bukunya itu ada topik tentang pacaran sehat. Sudah pernah baca? Kemudian coba lihat gambarnya. Gambarnya perempuan pakai kerudung panjang, laki-laki pakai peci pakai jaket. Allahu Akbar. Kalian tahu tidak apa misi di balik itu? Sebenarnya misinya bukan mengajarkan bagaimana pacaran sehat. Bukan. Karena orang Indonesia itu tidak disuruh juga sudah pacaran sakit semua. Misinya itu apa? Misinya untuk membuat anak-anak rohis jadi bingung. "Oh ternyata ada pacaran halal ya?" Masih ingat tidak hadits "Akan ada di antara umatku yang menghalalkan zina, minuman keras, sutra, dan alat musik."

Jelas kejadian nyata dari hadits ini. Alhamdulillah. Makanya saat Aa' membaca hadits itu, "Alhamdulillaah, bener tuh sabda nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sekarang tuh, menghalalkan pacaran, nanti lihat aja bentar lagi akan ada kata-kata 'oh gapapa zina juga, asal sama-sama suka'." Aduh parah. Kalian mengerti, kan? Kita hidup di zaman di mana sudah banyak sekali kesesatan. Dan kalau kita tidak mau berpegang teguh pada ajaran Allaah dan RasulNya, kita bakal ikut sesat. 

Pernah ada yang bilang ke Aa' Rizal, "A', masa' sih musik haram? Kan yang ngebuat alat musik siapa? Ulama-ulama Islam." A' Rizal bilang, "Betul, ulama-ulama Islam yang ngebuat musik, yang ngebuat piano. Betul, itu buatan mereka, terus apa? Ai yang dijadikan patokan tuh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau ustadz sih? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Ya Aa' mengerti kita, Aa' Rizal dan kalian semua belum bisa meninggalkan musik, Aa' yakin. Tapi minimal kita yakini dulu haramnya. Kalau pun kita masih mendengarkan, apalagi ada pelajaran musik kan, ya kita saat melakukannya istighfar ke Allaah. Aa' mengerti ya akhi Aa' mengerti sekali tentang masalah itu. Tapi, sekali lagi, yang jadi patokan itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa yang beliau ucapkan, apa yang beliau lakukan, bukan ustadz. Terus kalian juga ada yang bilang, "A', wali songo juga dakwahnya dengan musik." Kita bilang, "Semoga Allaah merahmati wali songo atas dakwahnya, semoga Allaah memberi dia pahala yang besar atas jasanya yang besar. Tapi sekali lagi, hukum musik itu tidak berubah."

Contoh, ada seseorang, dia itu salah satu penceramah besar seluruh dunia. Laki-laki ini zina, sama perempuan. Kemudian setelah zina, pacaran, kan. Lalu apa yang terjadi setelah zina dan pacaran? Laki-lakinya taubat. Akhirnya perempuannya juga ikut taubat. Jadi perempuan itu taubat salah satu sebabnya adalah karena zina di awalnya. Tapi apakah zina itu jadi halal? Tetap saja haram. Jadi jangan melihat, "Oh tapi saya gara-gara saya pacaran saya jadi deket sama Allaah." Alhamdulillah kamu jadi dekat sama Allaah, tapi pacarannya tetap, haram. Jangan gara-gara, "Oh saya mah pacaran jadi deket sama Allaah, wahai jemaah, ikuti jalanku." Wah sesat itu mah haha

Ingat, kalau kita pribadi merasakan manfaat dari berbuat dosa, ya itu kebetulan doang. Jangan disama-ratakan, dan jangan jadi dalil halalnya perbuatan tersebut. Tidak bisa. Haram ya haram. Dan haram itu tidak bisa jadi halal kecuali dalam kondisi darurat. Misalnya kalian disuruh, "Buka kerudung atau kutembak!" Tidak apa-apa buka kerudung. Tapi pas lagi sembunyi tidak ada pistolnya, pakai lagi. Gitu. Eh kalau lagi sembunyi tidak ada orang ya tidak perlu pake kerudung haha. Yang jelas kalau kita lagi kondisi darurat, yang haram jadi halal. Tapi itu pun hanya untuk sementara waktu. 

A' Rizal senang ada ukhti yang bertanya, "A', kalau musik itu yang diharamkan yang bagaimana? Apakah semua musik? Atau memang ada penjelasannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya musik yang haram tuh ini dan itu?" Aa' tahu, sebagian pementor, ustadz, ada yang sengaja membuat-buat alasan, "Ooh, musik yang diharamkan mah maksudnya yang begini begini. Di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tuh musik itu identik dengan alkohol dan zina. Tapi kalau misalnya ngedengerin musiknya tanpa alkohol dan zina gapapa itu mah." Subhanallah. Itu adalah ucapan orang. Bukan ucapan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Ada 6 poin yang harus dicatat.


Iman kepada kitabullah tadi sudah dibahas. Dan iman kepada Al Quran ini adalah sesuatu yang wajib. Tidak bisa tidak. Mencakup beberapa hal dalam mengimani Al Quran. Ada beberapa hal yang harus kalian mengerti. 

Oh ya omong-omong tentang masalah takdir, masih ada yang bingung ya guru agama, ustadz, sebagian ada yang bilang takdir itu ada yang bisa diubah ada yang tidak bisa diubah. Subhanallah. Ini terjadi kenapa? Karena kurang memahami Al Quran dengan baik. Karena tidak memamahi Al Quran sesuai dengan penafsiran para sahabat. Langsung ada yang bilang, "A', tapi kan mereka juga ulama." Betul, mereka ulama. Tapi kalau ulama bertentangan dengan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tingkat ulamanya lebih tinggi siapa sih? Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau ustadz sekarang? Sahabat ya akhi. Sahabat itu punya julukan "radhiyallaahu 'anhum wa radhuu 'anhu". Ai A' Rizal punya tidak julukan itu? Tidak. A' Rizal sih kalau sudah mati, julukannya "Almarhum" haha. Tapi Almarhum juga belum pasti, tahu almarhum artinya apa? Yang dirahmati. Belum tentu. Itu hanya sekedar do'a doang. Belum pasti julukan. Tapi kalau sahabat itu sudah jadi julukan langsung dari Allaah, "radhiyallaahu 'anhum wa radhuu 'anh". Karena itu tidak usah bingung dalam membahas agama kita ini mudah kalau mengikuti jalannya sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam insyaaAllaah. 

Mari kita pahami beberapa hal. Pertama tentang masalah Al Quran.

1. Mengimani seluruh isi Al Quran itu benar dari Allaah


Kalian tahu, ada orang yang tidak percaya dengan Quran. Ada juga orang yang tidak percaya dengan SATU ayat Al Quran. Contoh, "Kiamat telah dekat, dan bulan telah terbelah." Ada di surah 54 ayat 1. Ada orang yang tidak percaya dengan terbelahnya bulan. Kira-kira yang lebih parah yang mana? Orang yang tidak percaya dengan semua atau orang yang tidak percaya dengan satu ayat? SAMA!

Kenapa? Karena tidak beriman pada satu ayat Quran itu sama dengan tidak beriman pada seluruh ayat Quran. Tidak beriman kepada satu ayat Al Quran itu dosanya infinity, dan tidak beriman dengan seluruh ayat Quran dosanya infinity juga. Dan infinity tidak ada kuadratnya. Sama. Karena itu hati-hati kalian, tidak boleh ada satu ayat pun dalam Al Quran yang kita tidak beriman padanya. 

Iman itu meyakini benar, meyakini datangnya dari Allaah. "Alif lam mim." Kalian beriman itu dari Allaah? Beriman. Mengerti tidak? Tidak. Tapi yang paling penting pertama beriman dulu. Makanya, kalau di antara kita ada yang belum banyak Islamnya, belum tahu banyak tentang Al Quran, minimal kita bilang ke orang-orang, ke Allaah pun kita bilang, "Ya Allaah, aku imani seluruh isi Al QuranMu. Nggak ada yang salah di dalamnya." Paling yang ada itu orang yang salah memahami. Salah tafsir. Tapi kalau ayatnya pasti benar.

Paham yang pertama? Imani dulu. Mau kita bisa mengamalkannya, mau belum bisa, percaya dulu. Allaah bilang, "Wa laa taqrabuz zinaa. Jangan dekati zina." Beriman tidak sama ayat itu? Beriman. Tapi bagaimana kalau kita masih mendekati zina, pacaran? Istighfar. Jangan dihalalkan. Soalnya kalau kita menghalalkan zina, sama dengan kita tidak beriman dengan ayat itu. Dan kafir itu. 

Jadi bisa dibedakan tidak, antara orang yang melakukan dosa dengan orang yang menghalalkan dosa? Beda tidak? Nih, babi. Jus babi misalnya. Haram? Haram. A' Rizal minum jus babi. Dosa besar? Dosa. Kafir tidak? Tidak. Tapi sekarang A' Rizal bilang, "Jus babi ini halal lho." Nah, kalau A' Rizal menganggap halalnya jus babi, A' Rizal kafir. Jadi lebih besar dosa menghalalkan dosa atau melakukan dosa tapi sambil merasa bersalah? Menghalalkan dosa. Paham?

Makanya ini bahaya sekali ketika ada yang mengatakan pacaran sehat, pacaran halal. Aduh tidak ada itu. Kalau kita menghalalkan zina, dosanya lebih dari zinanya itu. 

2. Membaca


Dibaca Al Quran ini ya akhi. Jangan cuma diimani eh diimani alhamdulillah bagus. Tapi dibaca juga. Membaca tanpa mengerti itu sudah berpahala. Tapi kita punya kewajiban untuk mengerti isinya. Jadi jangan cuma baca saja, Ramadhan tidak usah target khatam sekali tapi target khatam dengan terjemahnya minimal. Minimal kita tahu dulu isinya. Mungkin banyak yang belum bisa kita amalkan, tapi imani dulu saja isinya. 

"Oh ya Allaah, aku tahu astaghfirullaah aku belum bisa mengamalkannya ya Allaah, alhamdulillaah yang ini aku bisa mengamalkan walau pun belum sempurna." 

"Ya Allaah, aku belum tahu tentang ini, sekarang baru tahu." 

"Ya Allaah, astaghfirullaah belum bisa mengamalkan."

Tuh, kalau kita baca, minimal nanti kita mengerti kalau baca terjemahnya.

Jadi yang pertama tadi mengimani isi Quran. Yang kedua, membacanya walau tidak mengerti, baca. Itu dapat pahala. Satu hurufnya sepuluh, walau tidak mengerti. Tapi, Ada tapinya. Baca satu ayat Quran, dengan disertai pemahaman yang dalam, tadabbur, itu pahalanya bisa lebih besar daripada baca seluruh Quran tanpa dipahami isinya.

"Oh ya udah lah, mulai besok saya bacanya satu ayat aja."

Ya jangan juga. Baca semampu kita. Mungkin sehari lima halaman dengan terjemahnya. 

3. Memahami


Ada yang bilang, jujur aja A' Rizal geuleuh dengan ucapan ini, "Jangan belajar terjemah, mending belajar bahasa Arabnya aja. Kalau terjemah itu ini deh, kurang ngena ke hati." Orang yang bicara itu A' Rizal lihat shalatnya, parah. Pas shalat melihat ke mana-mana. Sedangkan adik mentor A' Rizal, di SMAN 2 sekarang sudah jadi alumni, tidak pada belajar bahasa Arab, tapi A' Rizal menyarankan ke mereka, minimal baca terjemahnya, ngertiin sama terjemahnya insyaaAllaah lebih khusyuk. A' Rizal melihat shalat dia, Aa' kadang-kadang suka mengintip kalau di masjid, pas lagi sepi, beberapa orang itu datang ke masjid lalu A' Rizal melihat dari belakang, dia tidak tahu A' Rizal memperhatikan dia, Aa' melihat dia shalat dari belakang itu kelihatan kayak lagi menangis. Subhanallah. Padahal tidak belajar bahasa Arab. Ya itu lah, terjemah itu ada manfaatnya. Jadi jangan bilang, "Aah mending belajar bahasa Arabnya aja jangan baca terjemah." Kita bilang terjemah baca, belajar bahasa Arab pun bagi yang sanggup lakukan. 

4. Amalkan isinya


Yang belum bisa kita amalkan, istighfar. Allaah berfirman, 

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allaah! Dan jadilah kalian bersama dengan orang-orang yang jujur."

"Ah aku masih banyak dusta ya Allaah, aku imani ayat ini, aku membacanya, aku memahaminya, tapi aku belum mengamalkannya, ampuni aku ya Allaah."

Ada ayat yang lain, di mana Allaah berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman, makan lah dari rizqi yang Allaah karuniakan kepada kalian."

"Oh ini bisa diamalin." Iya, soalnya kalau untuk makan kita amalkan pasti haha. "Oh Ya Allaah ini ayatnya aku baca, aku ngerti, udah aku amalin nih. Aku makannya yang enak-enak, murah tapinya." Gimana cara murah? Main ke rumah teman, gratis haha. Mengerti empat poin ini?

Amalkan. Kalau belum bisa mengamalkan bagaimana? Istighfar. 

5. Dakwahkan ke orang lain


Dakwahkan. Dan namanya mendakwahkan itu jelas yang didakwahkan itu yang kita tahu benar pemahamannya. Jangan sampai yang kita belum mengerti kita sampaikan. Dan Aa' ingin bertanya, "Apa yang semisal dengan Quran yang wajib kita terima?" Benar. Hadits. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Aku diberikan Al Quran dan sesuatu yang semisal dengannya."

Maksudnya apa? Hadits. Namun hadits yang boleh kita sampaikan adalah hadits yang sudah diteliti oleh para ulama tentang ke-shahih-annya. Dan kalian jangan bilang, "Oh, kalau hadits itu nggak dijamin kayak Quran ya? Berarti hadits mah kita harus hati-hati." Betul. Kita harus hati-hati menyeleksi antara hadits yang shahih dengan yang tidak. Tapi, kalau sudah ada hadits yang shahih harus diterima atau tidak? Harus. Ada aliran sesat di Indonesia yang tidak mengimani adzab kubur. Padahal hadits tentang adzab kubur itu lebih dari 20 mutawatir. Mutawatir itu artinya haditsnya shahih dan pasti. Tapi mereka tidak percaya. Kenapa? Karena bertentangan dengan Quran. Lah, hadits itu diturunkan, untuk menjelaskan isi Al Quran, atau untuk bertentangan dengan Quran? Untuk menjelaskan.

Dan ketahui lah ya akhi, Dalam Quran ini tidak ada satu pun ayat yang saling bertentangan. Kalian kalau sekadar membaca tanpa memahami dengan baik, kalian akan merasa di Quran ini, banyak yang bertentangan. Kalau tidak mengerti dengan pemahaman para sahabat. Contoh, Allaah berfirman di surah 79, Allaah menciptakan bumi setelah langit, tapi di surah 41 Allaah bilang Dia menciptakan langit setelah bumi. Seakan-akan bertentangan, kan? Iya. Ada yang bertanya tentang ini ke Ibnu 'Abbas. Siapa Ibnu 'Abbas? Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang nomor satu yang paling mengerti tafsir Quran setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi kalau kita ingin mengerti masalah tafsir Quran, masalah takdir, jangan jauh-jauh ke ustadz yang kita belum tentu tahu kebenarannya.  Merujuk lah kembali kepada Ibnu 'Abbas. 

"A', gimana tahunya? Kan beliau udah meninggal."

Baca tafsir Ibnu Katsir. Ibnu Katsir itu koleksi hadits-hadits shahih, dan juga ucapan para sahabat, yang menjelaskan tentang Quran dan hadits. 

Nah apa coba kata Ibnu 'Abbas tentang ayat yang kelihatannya bertentangan itu?

"Wahai anakku, wahai pemuda, ketahui lah Al Quran ini tidak ada yang bertentangan. Hanya engkau yang belum memahami dengan baik. Allaah memberi tahu bahwasanya Allaah menciptakan bumi dalam jangka waktu dua hari." 

"Kenapa harus dua hari? Kenapa nggak langsung ping begitu aja?" Terserah Allaah. Allaah tinggal bilang, "Kun." Jadi semuanya bisa. Tapi Allaah menghendaki bahwasanya jadinya itu dua hari bumi.

"Setelah Allaah menciptakan bumi dua hari, Allaah naik ke langit."

Tidak usah dibayangkan Allaah terbang seperti apa. Jangan, tidak boleh. Haram. Pokoknya Allaah pergi ke langit. Dan pada saat itu, belum langit itu, belum ada apa-apa di situ. 

"Kemudian Allaah ciptakan langit dalam jangka waktu dua hari. Kemudian Allaah menyempurnakan isi bumi dalam jangka waktu dua hari. Jadi dua hari menciptakan bumi, dua hari menciptakan langit, dua hari lagi menyempurnakan semua isi bumi beserta rizqi-rizqinya, binatang-binatangnya, air minumnya, Dan Allaah juga menyuruh bumi dan langit untuk bersatu. Seperti itu."

Kalau kita mengerti, apakah jadi bertentangan ayatnya? Tidak. Di surah An-Naba' Allaah berfirman di hari kiamat itu orang-orang dan roh-roh dan malaikat akan berjejer-jejer. Dan tidak ada yang bisa berbicara kecuali orang yang diizinkan oleh Allaah. Tapi, di surah Yasin juga Allaah berfirman bahwasanya orang-orang itu bakal ditutup mulutnya, jadi tidak bisa berbicara di hari kiamat. Tapi kenapa di ayat yang lain justru orang kafir itu di hari kiamat pada bilang ke Allaah, orang Islam juga berbicara ke Allaah. Bertentangan tidak seakan-akan? Iya. Di ayat ini Allaah bilang tidak ada yang bisa bicara, di ayat yang lain Allaah bilang ada yang bisa bicara. Ya bertentangan kalau kita tidak mengerti. Tapi apa coba kata Ibn 'Abbas?

"Ya, itu terjadi di hari kiamat. Pertama, memang orang-orang itu pada diam semuanya. Kemudian, Allaah memberi ampunan dan rahmat kepada kaum muslimin. Saat orang-orang kafir melihat orang-orang muslim itu diberi ampunan, maka orang-orang kafir ini akan bilang ke Allaah, 'Ya Allaah, kami dulu bukan termasuk orang musyrik.' Setelah mereka bilang begitu, Allaah tahu kebohongan mereka, Allaah tutup mulut mereka, sehingga mereka tidak bisa berbicara lagi."

Paham? Jadi di hari kiamat ada waktu di mana kita tidak bisa bicara, ada waktu di mana kita bisa bicara. Dan ini tidak bertentangan antara ayat Qurannya. Sekali lagi akhi, kalian baca Quran silakan. Dengan terjemahnya. Nanti kalau ada ayat yang tidak mengerti, kalian tanya ke A' Rizal. Kalau A' Rizal sudah baca tafsirnya, Aa' sampaikan insyaa Allaah sesuai tafsir sahabat. Bukan sesuai tafsir aku. Aku tidak mengerti apa-apa tentang tafsir. A' Rizal bukan ahli tafsir. A' Rizal cuma menyampaikan apa yang disampaikan oleh sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Alhamdulillahirabbil'alamin. Hadits itu harus diterima, karena hadits itu tidak menentang Al Quran, tapi justru untuk menjelaskan Quran. 

***

Q&A:


1. Tadabbur itu beda dengan tafsir. Contoh dalam surah Al-Kautsar. "Sungguh, Kami (Allaah) telah memberikan kepada"mu" nikmat yang banyak."

Ulama menyebutkan "mu" di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah telah memberikan nikmat yang banyak kepada beliau, salah satunya telaga Al-Kautsar. Tapi kita boleh, ketika sedang mentadabburi, kita mengingat betapa banyaknya nikmat yang telah Allaah berikan kepada kita. Punya mata, beragama Islam. Itu bukan lah tafsir, melainkan menghayati. Menafsirkan itu kalau setelah kita baca, kita bilang, "Tadi malam baru diturunkan surah Al-Kautsar kepadaku. Inna a'thainaka al-kautsar. Nah 'ka' di sana itu maksudnya aku, bukan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, aku nabi baru."

Jadi beda ya antara menafsirkan dengan mentadabburi. Kalau menafsirkan itu menjelaskan konteks ayat itu, kemudian pelajaran yang bisa diambil dari ayat itu, lalu hukum-hukum halal dan haramnya dari ayat itu. Ada pun menghayati, itu dikorelasikan dengan kehidupan kita, sekadar untuk menghayati tidak apa-apa. Contoh, 'Aisyah sedang membaca surah Ath-Thur. Di mana di situ ada dialog antara penduduk surga, "Kami itu termasuk orang yang takut berbuat maksiat, maka di hari ini Allaah karuniakan kepadaku perlindungan dari neraka." Nah 'Aisyah ketika membaca itu, kan beliau tidak tahu ayat itu 'Aisyah atau bukan yang termasuk orang-orang itu. Tapi 'Aisyah itu menghayatinya seakan-akan begitu. "Ya Allaah, semoga aku termasuk orang yang bisa mengucapkan ini." Gitu. 

Ketika kita sedang membaca tentang orang-orang kafir di neraka selamanya. Kita membaca, dan menghayatinya seperti ini. "Aduh, gimana seandainya aku kafir..." Kita tidak bilang kita ini kafir. Tapi kita bilangnya seakan-akan, "Bagaimana seandainya aku ini kafir, aku masuk neraka selamanya. Tapi alhamdulillaah aku ini Islam." Jadi kalau menghayati itu lebih kepada peresapan ke hati kitanya, jadi pas baca bisa menangis.

2. Episode 54 di paradisemeeting.blogspot.co.id tentang "Rona Hati".

Kalau kita sering melakukan dosa, kita akan jadi semakin susah untuk menangis karena Allaah, susah untuk khusyuk, dan juga susah untuk menjauhi maksiat. Tapi bagaimana caranya biar kita bisa kembali lagi ke Allaah?

Akhi, Allaah punya salah satu sifat yaitu Al-Qadiir. Apa itu Al-Qadir? Yang Maha Kuasa. Kalian yakin atau tidak Allaah itu Al-Qadir? Yakin. Pada saat kalian yakin, seharusnya kalian bilang ke Allah, "Ya Qadiir, ya Allaah, Yang Maha Kuasa melakukan segala sesuatu, Engkau tahu maksiatku ini sudah banyak, sudah menumpuk, hatiku sudah kotor, namun Kau pun tahu di hati ini masih ada keinginan untuk taubat padaMu, ya Rabb. Tolong ampuni aku dan beri aku hidayah untuk menjauhi dosa-dosa ini."

Serius deh minta ke Allaah. Saat kalian sendirian di motor, di kanan kini mungkin ada orang, tapi ketika kalian dzikir suara lirih, Allaah mendengar. Minta ke Allaah. Saat kalian di angkot, di sebelahnya gesekan sama perempuan yang kekurangan rok mini haha udah rok mini, kurang lagi. Kalian bilang ke Allaah, "Astaghirullaah ya Allaah ampuni aku. Aku deket sama perempuan ini..." Ampun. Minta ke Allaah. Ini masalah kita, kita itu sering melakukan maksiat. tapi jarang istighfar. Luangkan waktu untuk istighfar, akhi. Kalian pas lagi di jalan, di angkot, ingat saja dengan dosa-dosa kalian, meninggalkan shalat tuh, jangan dulu lihat dosa yang lain. Ya, bukan berarti tidak taubat dari dosa yang lain, bukan. Jangan salah paham. Tapi coba dulu dari dosa meninggalkan shalat, yang dosanya itu infinity. Istighfar ke Allaah. Coba bayangkan kalau mati detik itu belum taubat dari meninggalkan shalat, neraka selamanya. Minta ampun ke Allaah. Istighfar. Sama minta hidayah.

Aa' tahu ada di antara kalian yang bingung dengan materi takdir sama yang Aa' sampaikan. Aa' bilang, "Ya akhi, tahu nggak Allaah itu Al-Hadi. Maha Pemberi Hidayah. Minta hidayah ke Allaah. ihdinash shiraatal mustaqiim. Ya Allaah tunjukkan aku ke jalan yang lurus. Engkau tahu ya Allaah, aku ini nggak ada keinginan untuk sesat, tapi aku ini belum memahami tentang takdir yang benar. Ustadz ini bilang itu, A' Rizal bilang itu, ini bilang ini, jadi beda, aku bingung. Ya Allaah, tolong beri aku kemampuan agar aku tahu mana yang benar. Beri aku hidayah agar hati ini terbuka kepada mana pemahaman yang benar." Insyaa Allaah sama Allaah akan dibimbing.

Aa' Rizal juga dulu memahaminya takdir itu bisa diubah. Tapi alhamdulillah dengan izin Allaah, setelah A' Rizal membaca lagi, "Oh takdir mah nggak bisa diubah." Tapi, karena kita tidak tahu takdir kita, makanya tugas kita adalah beramal saja sebaik mungkin. Kalau kita shalih di dunia sudah menjadi sunnatullah. Kita itu masuk surga insyaa Allaah ya, aamiin.

3. Pelajaran tentang menafsirkan ayat Quran

Di pelajaran Agama kan suka ada ayat Quran, kemudian disuruh bikin kelompok, masing-masing presentasi. Jujur, Aa' kelas 10 menyesatkan orang, astaghfirullahal 'azhim. Tahu, dulu lagi membahas tentang asmaul husna. Kemudian masing-masing kelompok disuruh buka dari internet. Dan, yang namanya orang baru belajar kan kadang suka salah, dan gurunya juga mungkin ilmunya belum mumpuni untuk mengerti materi ini, sehingga salah satu kelompok temannya A' Rizal ada yang membahasnya kayak gini: Ar-Rahman. Allaah Yang Maha Pemurah. Jika dibaca 555 kali, maka kita akan menjadi kaya. Wus astaghfirullahal 'azhim. Ada yang bilang baca Ar-Razzaq, baca 1111 kali dalam pagi dan petang, nanti insya Allah akan diberi satu miliar. Ya Allaah. Ini adalah kesesatan. Masak nama Allaah untuk hal seperti ini? Jadi seperti mantra. Kalau mau kita gini, "Yaa Razzaaq, karuniakan aku rizqi ya Allaah, dan karuniakan aku untuk mencari rizqi yang halal." Kemudian kita bekerja sebaik mungkin, akan dapat itu insyaa Allaah harta yang halal. Bukan dengan duduk baca 70 ribu kali 'rahman rahman rahman...', tapi jujur aja ada yang kayak begitu di kelas. Dan A' Rizal ketika itu pun belum mengerti, ketika A' Rizal ditanya, Aa' bilang, "Emm menurut saya, boleh-boleh saja." Astaghfirullah. Aa' kalau ingat dulu itu inginnya taubat, seram soalnya. Bahaya kalau ceramah, tidak punya ilmu.

Nah tapi bagaimana, kan sudah ada pelajarannya? Kalian lah, yang bertugas untuk presentasi yang benarnya, yang lurus. Baca dari tafsir Ibnu Katsir. "A', tapi bahasanya susah dari tafsir Ibnu Katsir itu bahasanya terlalu berat, tolong sampaikan yang lebih ringan." Ya nanti A' Rizal bisa bantu.

Jadi jangan menanyakan ke jamaah tentang tafsir, kecuali kalau si ustadz sudah tahu tafsirnya, lalu kalau yang ditanya salah, diluruskan oleh ustadz. Kan kalau di presentasi tadi tidak ada yang seperti ini. Ada satu hal yang penting tentang tafsir, yaitu tidak bisa kita menafsirkan Quran kalau kita belum mengerti Quran secara global. Karena bisa jadi kita ambil satu ayat, tapi keliru. Ada lho di Quran ayat yang menjelaskan bahwa orang Kristen itu dekat sekali dengan kita seakan-akan kita jadi bisa bersaudara dengan orang Kristen. Keliru sekali. Orang Kristen bisa jadi sekadar teman, jual beli boleh, tapi kalau sampai jadi teman dekat itu dilarang dalam Islam. Tapi mereka bilang, "Tapi kan ada ayatnya." Ya itu dia. Ayat ada, tapi kalau kurang memahami konteksnya, tafsirnya, akan jadi keliru. Paham?

Sekali lagi, kalian jangan jadi merendahkan guru agama. Tidak, Aa' cinta dengan guru agama di sekolah Aa'. Cuman, kalau membahas tafsir, alangkah baiknya nanti di mana mengundang dulu seseorang, ustadz yang memang mengerti tafsir. Kemudian disuruh menjelaskan. Jangan anak-anak disuruh menjelaskan sesuai kehendak mereka, nanti jadinya salah.

4. Metafisika

Kalian tahu apa yang dimaksud dengan tahayul? Tahayul itu (atau jimat) adalah sesuatu yang tidak ada sebab-akibatnya bisa menyembuhkan atau bisa membawa kebaikan, tapi kita meyakini itu bisa membawa kebaikan. Contoh, A' Rizal sakit. A' Rizal lagi batuk, kemudian minum komiks. Bukan komik, entar malah jadi Naruto, bukan, itu obat batuk, Lalu A' Rizal bilang, "Bismillaah. Ya Allaah, komiks ini bisa menyembuhkan insyaa Allaah, dengan izinMu." Boleh tidak? Boleh. Kenapa? Karena memang dalam isi komiks itu ada zat-zat yang memang ada hukum sebab-akibat yang bisa menyembuhkan. Tapi, bagaimana kalau ini, A' Rizal sakit, terus ada karet gelang. Disimpan di tangan, terus bilang, "Ya Allaah, insyaa Allaah karet gelang ini bisa menyembuhkan." Pake insya Allah-nya iya, tapi gelang ada sebab-akibat bisa menyembuhkan atau tidak? Tidak ada. Maka itu jadinya jimat. Walau pun kita sugesti "bisa sembuh bisa sembuh bisa sembuh", dan memang benar sembuh, tapi itu sembuhnya dari sugesti yang syirik, tidak boleh. Kita itu bolehnya berobat, dengan sesuatu yang memang ada hukum sebab-akibatnya. Keseleo pakai balsem. Jangan malah kita kasih gelang anjing, terus sembuh, tapi itu sembuhnya sembuh yang syirik.

Ya memang jimat-jimat itu banyak orang yang mengakui setelah memakai jimat jadi lancar bisnisnya, jadi sehat, ya. Tapi itu adalah sesuatu yang syirik. Tidak boleh. Dan mungkin lancar di situ hanya kebetulan doang, bukan si itunya bisa melancarkan rizqi. Kalau mau melancarkan rizqi, caranya pun harus benar. Mungkin dengan cara ketika dagang, senyum, tempat dagangnya strategis. Seperti itu. Bukan dengan cara yang memang tidak ada dalilnya.

Metafisika. Fisikanya aja udah lieur, pakai ada metafisika segala. Metafisika itu memang seakan-akan dibuat logis. Kalian tahu Hikmatul Iman? Itu tuh dibuat seakan-akan logis. "Tarik napas, kenapa kita bisa menyembuhkan? Karena di dalam tubuh manusia itu ada sel-sel yang bisa menghasilkan sekitar 100 ribu volt listrik." Kok A' Rizal tidak kena setrum ya? Katanya di dalam tubuh ada listriknya haha. "Kalau kalian bisa menarik napas dengan baik, itu akan mengalirkan energi-energi yang luar biasa, proton bla bla bla" Ah seakan-akan dibuat kayak sangat ilmiah. Padahal mau dari segi mana pun itu tidak ilmiah. Kalian tahu tidak caranya di Hikmatul Iman, Aa' dulu inginnya bisa terbang, flying withouth wings. Nah caranya itu katanya, "Kau konsentrasi, kemudian kau padatkan aura di daerah kakimu dan di daerah sekitarmu. Setelah aura itu bisa padat, kau bisa berjalan di atas." Aah, ilmiah dari mana itu?

Memang tidak ilmiah itu. Kalau mau yang ilmiah, yang benar-benar ilmiah. Bisa kejadian terjadi yang tadi itu, tapi itu bantuan jin. Dan rata-rata bantuan jin itu syirik. Memang ada yang tidak syirik, seperti Nabi Sulaiman menyuruh Ifrit mau mengambil singgasana ratu Balqis, masa' Sulaiman syirik, tidak kan? Cuman memang, mayoritas jin yang membantu kita itu syirik. Maka dari itu, jangan kalian sekali-kali minta bantuan jin. Jangan. Kalau dulu para ulama ada yang kedatangan jin, kemudian jinnya bilang, "Aku laper, aku suka makan nasi." "Oh kamu suka nasi? Nih ada nasi kalau kamu mau." Kemudian nasinya diambil, nasinya terbang, langsung hilang sendiri. Dan ulama itu ngobrol dengan jin itu, jinnya jin muslim.

"Ada tidak di antara kalian yang orang syi'ah, jin-jin syi'ah?"

"Oh Ada. Jin syi'ah adalah salah satu jin yang paling buruk di kabilah kami."

Jadi jin juga kayak gitu. Mirip sama manusia. Hanya saja kalau kita bukan ulama, hati-hati saja. Karena rata-rata jin itu kalau kita minta bantuan, dia bakal minta imbalan yang berupa syirik, seperti minta disembelih kambing, minta sesajen. Dan kalau kita melakukan itu, syirik.

Jadi gitu. Metafisika itu termasuk cabang sihir. Jangan percaya. Dan jangan dilaksanakan. Mending kita yang asli-asli saja, tivan (bela diri), Fisika. Di Fisika ada tidak yang tidak masuk akal? Ada. Black hole. Radiasi benda hitam, yang baru sekadar teori saja, belum fakta. Ya itu sekadar dipelajari saja, jangan diimani. Biologi juga ada, teori Darwin. Harusnya sih dihilangkan.

5. Orang yang mendengarkan musik nanti di hari kiamat telinganya diberi cairan dari timah panas

Wallaahu a'lam. A' Rizal belum pernah mendengarkan hadits ini. Jadi A' Rizal belum bisa menyampaikan itu shahih atau tidak. Cuman, dari hadits-hadits yang sering disampaikan oleh para ulama, tentang haramnya musik, tak ada satu pun yang bunyinya seperti itu. Yang A Rizal kasih tahu adalah bahwasanya orang yang menghalalkan musik itu diubah jadi monyet dan babi, itu shahih. Yang menghalalkan musik, bukan yang mendengarkan musik tapi masih istighfar. Beda tidak antara mendengar musik dengan menghalalkan musik? Beda. Lebih besar dosa yang mana? Menghalalkan. Kalau kita mendengar musik tapi masih merasa dosa. Ya mungkin ada di antara kalian profesinya masih bermusik. Tapi ya sudah, istighfar. Dengarkan episode 35 dari paradisemeeting.blogspot.co.id. Atau bisa di YouTube ketik kata kuncinya "Musik itu Halal Bagiku" Dr. Syafiq Reza Basalamah. Yang menonton itu 20 ribu. Bagus itu materinya, keren. Aa' kira ustadznya menyesatkan nih, ternyata pas didengarkan mantap. Dan beliau menyampaikannya dengan lemah lembut tidak seperti A' Rizal.

6. Tips untuk menghapalkan Quran

Nanti ya...

Subhanakallahumma wa bihamdik, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

_______________________

Referensi: Audio ceramah Abu Takeru "Rukun Iman III (iman pada kitab Allah)"
Ø Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Ø Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Reviewed by max on 19.36.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.