‎Ø Berjuang, Harapan!



Bismillaahirrahmaanirrahiim.          
                                                                       
“Apabila kau berharap pada manusia, maka tunggulah saat kecewa. Namun jika kau menggantungkan harapan pada Yang Maha Kuasa, takkan pernah kau menyesal.”-MSH


Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Begitulah sebut Wikipedia terhadapnya. Menurut saya, harapan adalah sebuah energi cahaya yang mampu mengisi ruh-ruh yang merasa hampa dan menjaga agar tetap percaya atas sesuatu yang ingin diraih.

Seringkali kita menaruh harap pada sesama. Tak jarang orang mengharap pada yang tak bernyawa. Bahkan ada pula sebagian yang menjual harap mereka pada mereka yang berapi raganya. Kita meminta bantuan kepada teman kita. Kita memohon pertolongan kepada benda-benda yang tak bernyawa. Atau kita bisa saja mencari jawaban atas gelapnya masalah kita kepada para makhluk tak kasat mata yang kafir.

Apa yang kita harap dari mereka? Apa kita lupa teman kita memakan makanan yang sama? Tak sadarkah kita benda-benda tak bernyawa—yang bahkan dibuat oleh tangan kita—itu tak pernah mampu bergerak dengan sendirinya? Mungkinkah juga kita lupa jin-jin tak pernah punya kuasa apa-apa atas diri kita? Dan ya, kita sangat sering lupa pada kelupaan bahwa mereka semua sama seperti kita, hanya sesuatu yang dicipta. Makhluk.

Bagi dia yang sudah sering dikecewakan, mungkin mulai untuk tidak percaya. Apalagi di zaman modern sekarang ini, semakin maraknya pencurian, penipuan dan kejahatan lainnya yang membuat eksistensi dari harapan itu sendiri berkurang dan lama-lama menjadi barang langka. Akhirnya, tidak sedikit insan yang merasa sesuatu datang menutupi cahaya harapan itu… Keputus asaan.

Asa itu putus. Putus karena keadaan dunia yang tidak mengenakkan diri, lalu diri yang bersikap lemah terjadi. Saat cahaya asa itu sudah tidak menerangi lagi, kegelapan timbul. Ia mengotori dan menggerogoti hati, mungkin sampai kondisi di mana kita sudah tak percaya dan menaruh hati lagi pada siapa pun di dunia ini. Ia tak rela menyerahkan pertolongan terhadap dirinya kepada yang lain. Kemudian mulai melakukan segala hal seorang diri. Atau malah menyalahi diri atas apa yang terjadi dan tidak melakukan apa-apa yang berarti. Sampai jiwa yang ada di dalam tubuh, hancur tak bersisa.

Tapi ingat satu hal. Kita lah yang harus menghampiri harapan, bukan ia yang bebas bergerak kepada siapa pun yang dikehendakinya. Ada sunnatullah-nya. Harapan itu sedia di depan sana, dan kita yang maju menujunya. Orang-orang yang berputus asa, hatinya tidak bisa melihat terangnya cahaya harapan itu. Hanya orang yang ingin berubah dan percaya lah yang bisa menjadi wadah untuk harapaan hinggap. Bukan yang diam terlalu lama, mengeluh berlebihan dan menutup pintu hatinya sendiri dan tak mau percaya.

Karena dengan harapan kita bisa terus bergerak. Karena harapan yang membuat bumi terus berkembang. Karena cahayanya mencerahkan kebingungan dan kegelisahan kita. Karena itu, kita berani menancapkan dan menggantungkan harapan dengan penuh kepercayaan—setelah berikhtiar maksimal—hanya kepada Sang Maha Cahaya. Allah itu cahaya. Namun cahayaNya beda dengan cahaya yang diciptakannya. CahayaNya terus menerangi jagad raya, bahkan di Hari Kiamat pun. Ia tak pernah meninggalkan orang yang terus berharap hanya kepadaNya.

Terus lah meminta—pertolongan dan perlindungan—kepada Allah. Dekati harapan itu dengan mendekatiNya. Sehingga saat dunia sudah mulai gelap, cahaya dalam diri manusia-manusia sudah mulai redup, kita masih bisa berpegangan pada satu hal yang tak patut untuk dilepaskan. Bersamai lah ia! Jadikan ia menjadi bagian dari diri kita! Dan dengannya kita akan selalu melangkah.


Berjuang lah, wahai harapan!













‎Ø Berjuang, Harapan! ‎Ø Berjuang, Harapan! Reviewed by max on 06.00.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.