jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat,
tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah
yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka?
berhentilah mengeluhkan kegelapan itu,
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah!
***
Dia masih kecil ketika harus menyaksikan ayah dan seluruh anggota keluarganya yang suci dibantai di Padang Karbala. Dia tumbuh sebagai yatim-piatu dengan warisan luka yang amat dalam menyayat hati. Tak putus-putus derita dan penistaan yang dilakukan orang kepadanya. Tetapi lelaki ini, 'Ali Zainal 'Abidin ibn Husain membuktikan diri sebagai keturunan Sang Nabi akhir zaman yang mewarisi kemuliaan tak terperi.
"Tidakkah kau hidup dengan dendam," tanya seseorang, "Atau setidaknya dengki kepada Bani 'Umayyah?"
"Aku selalu tanamkan pada diri ini," ujar 'Ali Zainal 'Abidin sambil tersenyum, "Bahwa berdengki itu artinya kau menuang racun ke dalam mulutmu sendiri hingga tertenggak sampai usus, lalu berharap bahwa musuh-musuhmulah yang akan mati karenanya. Apakah yang demikian itu tindakan orang berakal?"
'Ali Zainal 'Abidin ibn Husain adalah cahaya yang menenggelamkan semua gelap dendam. Dia mengambil jalan tinggi, mengatasi semua rasa sakit dan luka lama. Dia menyembuhkan semua lara itu.
Sebab dia memahami bahwa yang benar-benar berarti bukanlah apa yang terjadi pada dirinya, melainkan apa yang terdapat di dalam dirinya. Dia melihat kebutuhan jiwanya akan kebaikan, dan oleh sebab itu, dia menyalurkan kebaikan tersebut kepada orang lain. Dia menginsyafi bahwa dirinya bukanlah korban. Dengan sadar dia memang memilih untuk menjadi mulia dengan melayani orang lain. Dia menetapkan standar lebih tinggi untuk dirinya sendiri dibanding apa yang akan dilekatkan orang pada dirinya.
Di saat lelaki agung ini wafat dan jenazahnya dimandikan, keluarga menemukan galur menghitam di punggungnya. Itulah saksi bahwa sepanjang hidupnya, dialah penyantun fakir dan anak yatim di seantero Madinah yang berkeliling tiap malam memikul sendiri bantuan-bantuan. Dalam dekapan ukhuwah, kita sungguh kehabisan kata untuk menggambarkan kemuliaannya. Maka mari kita menyimak butir-butir doanya dalam Shahifah As Sajjadiyah yang mengharu-biru, doa jalan tinggi, doa untuk menjadi cahaya.
ya Allah, sampaikan salam shalawat kepada Muhammad dan keluarganya
bimbinglah aku untuk
melawan orang yang mengkhianatiku dengan kesetiaanmembalas orang yang mengabaikanku dengan kebajikanmemberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbananmenyambut orang yang memusuhiku dengan kasih sayangmenentang orang yang menggunjingku dengan pujianberterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukanya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya
hiasilah kepribadianku dengan hiasan para shalihinberilah aku busana kaum muttaqin
dengan menyebarkan keadilan, menahan kemarahan, meredam kebencian,mempersatukan yang berpecah, mendamaikan pertengkaran,menyiarkan kebaikan, menyembunyikan kejelekan,memelihara kelembutan, memiliki kerendahan hati,berperilaku yang baik, memegang teguh pendirian,menyenangkan dalam pergaulan, bersegera melakukan kebaikan,meninggalkan kecaman, memberi walau kepada yang tidak berhak,
berbicara yang benar walau berat,menganggap sedikit kebaikan sendiri,walau terasa banyak dalam ucapan dan perbuatan,dan menganggap banyak keburukan pribadi,walau sedikit dalam kata-kata dan tingkah laku.
Ø Menjadi Cahaya
Reviewed by max
on
05.55.00
Rating:
Reviewed by max
on
05.55.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..