Ø Lupa pada Kelupaan



Bismillahirrahmanirrahim.

..... zz lupa mau bilang apa, haha ....

Biasa dosa karena lupa,
tapi pantaskah lupa apabila sudah diingatkan?

Saya cuma mau membahas singkat tentang "menyontek".
Saya tidak akan membahas kerugian menyontek, dsb.
Saya ingin membahas mindset kita tentang menyontek.

Boleh lah orang-orang beralasan mengapa mereka menyontek, tapi apa?
  • Semua alasan tersebut apakah lebih besar dari kewajiban yang telah ditetapkan Allah kepada kita? Sebenarnya itu saja yang perlu kita tahu. 
Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masin.
  1. Mau pilih patuh kepada Allah dengan cara Jujur, tidak menyontek, dsb?
  2. Atau mau pilih kepuasan sementara, mengikuti hawa nafsu, patuh pada syaithan, dengan cara Dusta, menyontek, dsb?
Tahu sendirilah konsekuensinya masing-masing.

Ketika orang berkata, "Daripada belajar tapi dapet nilai jelek, siapa tau belajar dikit plus nyontek bisa dapet nilai bagus"

Lebih baik mana, belajar banyak tapi dapet nilai jelek atau belajar dikit tapi dapet nilai bagus?
Ya lebih baik belajar banyak dan dapet nilai bagus. Kalau ada yang lebih baik, kenapa milih yang kurang baik?

Ketika orang berkata "Alah, cuman nyontek doang, masalah sepele. Kalaupun dosa, ntar bisa tobat."

Kata siapa? Udah banyak lho yang bilang. Nyontek itu : berbohong, mencuri, curang, dll yang negatif-negatif.

Allah LIHAT lho... udah ada yang bilang, bahwa :
  • Kalau dapat nilai rapot dari mencontek, lalu rapot digunakan untuk ijazah, masuk ke perguruan tinggi, terus nyontek lagi, terus ke tempat kerja bawa ijazah hasil nyontek, kemudian kita kerja, dapet duit dari hasil tadi. Serem tuh kalau kita masih punya hati yang belum beku, pasti tak tenang, stress, takut, dsb. Kalau hati kita telah membeku, kita akan bangga saja tanpa merasa bersalah.



Inilah dia bahasan utama kita. Apa yang seharusnya tak dilupakan? Apa yang seharusnya diingat selalu?

Lupakah kita?

Allah melihat proses, BUKAN hasil.
  • Thalabul 'ilmi itu wajib. Menuntut ilmu itu wajib, bukan menjadi pintar yang wajib.
Yang penting menuntut ilmunya, bukan pinter atau bodohnya.
Yang penting berusaha, bukan sukses atau gagalnya.
Yang pentin bekerja, bukan duit banyak atau dikitnya.

Kalau Ulangan (?)


Belajar = Proses,
Nilai = Hasil.

Nah, yang dipedulikan sama Allah apa coba?
Belajar/Nilai?

Lupakah kita, bahwa Allah itu mempedulikan Proses? Lupakah kita?
Lupakah kita, ketika kita memutuskan untuk mencontek, bahwa itu hanya kepuasan sementara, yang sebenarnya sama saja dengan menanam benih-benih titik hitam dalam hati?

Ketika kita ragu dengan diri sendiri, ragu dengan bantuan Allah, ragu dengan apa yang kita pilih, lama-kelamaan syaithan akan membantu kita.... menjauhkan diri dari Allah, meyakinkan diri tuk menyontek, bergantung pada orang lain, dan banyak lagi hal lainnya yang syaithan sudah profesional dengannya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? 
QS. Al-Ankabut : 2 
Orang yang mengaku beriman, imannya itu diuji.
Apabila ia beriman Allah selalu melihat, perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, maka harus diuji.
Ini cuma salah satu ujiannya

.

 Mindset Changed (?)


Saya sendiri bingung.
Sejak kapan sih mindset kita berubah? Dari kepedulian terhadap proses menjadi kepada hasil?
Atau malah dari awal mindset kita sudah dibentuk seperti itu? HANYA peduli pada hasil? TAK PEDULI bagaimana prosesnya berlangsung..
  • Ketika pertanyaan kebanyakaan : "Nilai kamu berapa?", bukan lagi : "Eh, kamu belajarnya gimana?"
  • Ketika perhatian kebanyakan : "Aduh nilaiku kecil", bukan lagi : "Aduh, cara belajarku salah"

Ketika mindset berubah, berubahlah pola pikir kita, perbuatan kita, tujuan kita, takdir kita.
Saya cuma ingin mengingatkan, khusunya kepada diri sendiri :

  • Mindset kita itu prioritaskan kepada Allah satu-satunya. Allah melihat proses (belajar). Tak usah pedulikan hasil.
  • Kalau copas quote dari sumber lain, "Do the best, and let Allah do the rest" itu saja sudah cukup.


Kalau saya pribadi, alhamdulillah dikuatkan untuk tidak menyontek pas Ulangan Semesteran insyaAllah. Semoga saya terus istiqamah dan berdo'a kepada Allah untuk meneguhkan hati yang rentan ini. Saya sendiri takut dan malu apabila menyontek, sementara Allah selalu ngeliatin.





    • Ya sebenarnya, sebagai seorang manusia beriman, satu alasan "Allah melihat apa yang kita kerjakan, dan yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat" saja sudah cukup untuk kita agar menjauhi perbuatan dosa.



    "Orang yang menyontek belumlah memiliki iman sejati, karena ia hanya melihat apa yang terlihat di mata. Iman itu mempercayai apa yang tidak dilihat oleh mata, melainkan oleh hati."
    -MSH 

    Camkan itu, kita manusia yang mengaku beriman.




    Maaf bahasannya tak terstruktur.
    Wallahu a'lam bishowab.

    *referensi :
    - Otak
    - Al-Qur'an
    - Google
    Ø Lupa pada Kelupaan Ø Lupa pada Kelupaan Reviewed by max on 10.53.00 Rating: 5

    Tidak ada komentar:

    Tolong kritiknya yang banyak please..

    Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.