Tiada Alasan
By : MSH
“Tiada kata maaf bagimu!”
Aafa benar-benar gusar. Kali ini tak terelakkan. Barang itu kini tak bernyawa.
“Aku benar-benar minta maaf, Fa. Aku sama sekali tidak sengaja, ini hanya kecelakaan. Aku akan menggantinya, karena itu tolong maafkan aku,” pinta Ardi dengan tubuh yang gemetar.
Ardi takut. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Semua orang mengenal sosok Aafa sebagai seorang yang paling pemaaf bagi siapapun. Namun tepat saat ini juga Ardi telah merusak citra dari seorang Aafa atas kesalahan yang diperbuat oleh dirinya sendiri.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini?” tanya Aafa bermuka berang.
Situasi menegang. Ardi tak bisa mengontrol pikirannya, membuat keringat terus bercucuran dari dahinya. Waktu yang sedikit tak memberinya banyak pilihan. Kejadian ini benar-benar murni kecelakaan seperti yang dikatakan Ardi.
***
“Horee!!”
Bel istirahat berbunyi, menandakan kebahagiaan bagi setiap murid pada umumnya. Apalagi Ardi yang seperti bangun dari hibernasinya karena sebelumnya adalah pelajaran yang paling ia benci.
“Di, ayo cepet sebelum penuh kita caw sekarang,” ajak teman-teman Ardi ke kantin.
Melihat Aafa yang duduk paling depan dekat pintu keluar dengan segala kerapihannya di atas meja, Ardi memutuskan untuk berhati-hati agar tidak mengganggunya. Ardi dan kawan-kawannya berhasil keluar dari pintu kelas yang terkesan dijaga oleh meja Aafa.
Setelah beberapa saat, bel masuk terdengar nyaring membuat seluruh siswa di luar kelas merasa was-was. Ardi pun bergegas masuk kelas. Kehati-hatian yang tadi ada pada diri Ardi, sirna begitu saja setelah hilang pikiran tentang itu. Ardi tergesa-gesa menuju pintu dan menabraknya keras karena tak bisa berhenti.
“Fuuh *menghela nafas* untung cuman nabrak dikit. Bahaya kalau aku sampai terluka.” Ardi lega.
Tidak mengira sesuatu yang tak terlihat telah terjadi, ia memasuki kelas dengan santainya. Tepat ketika kaki kanan telah menginjak satu ubin yang berada di kelas, Ardi dengan ketenangannya merasakan suatu aura gelap meningkat dan menoleh ke arahnya.
“Oi, Ardi! Grrr..." dia menggeram. "Lihat ini, lihat!” Aafa yang mendadak berdiri langsung naik pitam.
Atmosfer di sekitar pintu kelas berubah. Kondisi ruangan beralih mewujudkan keadaan persis di sinetron-sinetron masa kini. Melanjutkan awalan tadi, terang sudah permasalahan yang dialami mereka berdua.
“Maafkan aku apabila aku tak bisa membayangkan semarah apa dirimu.” Kaki Ardi tetap berusaha bertahan agar tidak jatuh, ia gelisah sambil menambahkan, “Terus… aku harus bagaimana?”
Aafa sejenak membalikkan badan. Terlihat gestur tubuhnya berubah. Setelah memalingkan wajahnya kembali, ternyata ia sedang tertawa geli dengan ekspresi puas di seluruh roman mukanya itu.
“Hahahaha~" Aafa tertawa girang. Setelah tawa panjang itu kelar, ia melanjutkan, "Aku hanya bercanda, Di. Bagaimana mungkin aku marah padamu hanya karena benda kecil seperti perangkat genggam yang menyimpan banyak pesan, kesan, dan kenangan ini. Kalau cuma karena hal sepele saja aku sudah marah, apalagi hal yang berat nanti. Pasti aku akan kehilangan akal seketika. Masih banyak hal tak tergantikan lain yang lebih penting untuk diperhatikan daripada hanya sebuah benda tak bernyawa seperti ini. Nggak ada alasan buatku marah ke kamu, ataupun untuk nggak maafin kamu,” jelas Aafa sambil tersenyum.
Sekali lagi Aafa membuat kagum seisi kelas. Tak ada yang membencinya, dan takkan pernah ada.
Ø "Tiada Alasan"
Reviewed by max
on
19.36.00
Rating:
Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..