Bismillahirrahmanirrahim.
عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ»
Ad-Diinun Nasiihah.
"Agama itu Nasihat."
Nasehat itu bukan memaksa. Nasehat itu saling peduli dalam setiap kebajikan. Nasehat itu pilihan, apakah kita ambil atau tinggalkan, apakah kita ambil hanya katanya saja atau dengan implementasinya.
Saya pernah dengar dari seorang mentor, "Nasihat itu bisa diibaratkan sebagai berikut. Bayangkan berada di gurun pasir yang gersang dengan terik matahari yang pekat membakar kulit. Dengan menaiki seekor unta kita berjalan di tengah-tengah gurun, perbekalan semua habis. Tiba-tiba di depan ada sebuah oasis. Kita mendekatinya dengan penuh harap. Dengan dahaga yang terangsang, air mendekati kita. Kita mudah saja memasukkan diri kita untuk meminumnya, dan mudah bagi unta masuk ke dalam air. Kita bisa saja memasukkan air ke dalam mulut unta, tapi kita tidak bisa memaksanya menelan air."
Kurang lebih seperti itu. Maksudnya adalah... air dalam oasis tersebut adalah nasihat. Tentu mudah untuk menyebarkan dan memberikan nasihat kepada orang lain, tapi belum tentu ia akan menerimanya, apalagi dengan keikhlasan. Kita bisa saja memberikan segala informasi dan perintah, memberitahukannya untuk ini dan itu, tapi pada akhirnya si orang itu sendirilah satu-satunya yang bisa memilih. Kita tidak akan pernah bisa memaksanya untuk melakukan sesuatu, hanya diri sendirilah yang bisa memaksanya.
- Kalau dilihat dari perspektif si pemberi nasihat, tetaplah memberi nasihat terus menerus (QS. Al-Asr: 1-3). Tapi tentu saja harus terus berlatih dalam menyampaikannya, jangan sampai yang kita beri nasihat itu kabur hanya gara-gara kita salah dalam cara penyampaiannya. Janganlah berputus asa, karena memang aspek waktu diperlukan dengan sebanyak-banyaknya. Kembali luruskan niat, dan yang penting teruslah menasihati tanpa memaksa, memberi makna tanpa berkata, menyirat hikmah dalam gelombang nasihat yang tak terlihat namun dirasakan langsung ke hati.
- Kalau dilihat dari perspektif si penerima nasihat, ini memang susah. Saya pribadi apabila dinasihatkan orang lain, cenderung rasa awal yang muncul ialah agak menolak. Mungkin alasannya tadi, cara penyampaiannya yang kurang enak diterima. Yang bisa saya sarankah ialah (khususnya untuk diri sendiri), mencoba untuk rendah hati, menerima apa adanya, tentu saja dengan akhlak yang baik, dan sebenarnya kita harus bersyukur apabila ada orang yang ingin menasihati kita, karena itu tanda kepedulian. Husnudzonlah selalu pada orang yang demikian. Teman yang baik sejatinya adalah ia yang mengingatkan kita kepada Allah. Jangan sampai kita melepaskannya sekalipun.
Kalau kata seorang Nouman Ali Khan:
Yang perlu untuk diketahui adalah agama itu nasihat. Dan jelas sejelas-jelasnya nasihat itu untuk lebih baik, bukan sebaliknya. Pertanyaannya apakah kita akan menerima dan mengamalkan nasihat tersebut atau malah menolak dan meninggalkannya begitu saja?
Kalau ada yang lebih baik, kenapa memilih yang lebih buruk?
Wallahu a'lam.
"Agama itu nasihat. Nasihat itu mudah dan murah untuk disampaikan, tetapi ia begitu sulit dan mahal untuk diterima."
Ø Mudah Diberikan, Sulit Diterima
Reviewed by max
on
17.30.00
Rating:
Reviewed by max
on
17.30.00
Rating:




.jpg)
Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..