Bismillahirrahmanirrahim.
Entah berapa lama, keluarga terus bersama. Manusia-manusia yang paling dekat dengan kita, lahir dan batin sejatinya terus bersama. Seorang insan lahir dari sebuah keluarga. Dibesarkan di sebuah bangunan yang sering disebut-sebut rumah. Tapi tak jarang tempat itu hanya berarti harfiah. Seharusnya keluarga tempat terindah, namun kadangkala semua itu dengan mudahnya berubah.
Waktu yang terbilang lama, dihabiskan dengan mereka. Setiap jiwa yang sedarah daging, saling merasakan apa yang dirasa anggota keluarganya yang lain. Rasa itu pernah ada, ketika saat dimana masalah dunia belum serumit sekarang ini. Yang disebut 'kekeluargaan' itu pernah nyata, namun sekarang seringkali berpindah dengan sengaja tanpa sebab yang mau untuk dimengerti. Hanya dengan tahun-tahun yang berbeda, kesenjangan mulai ada. Walau memang seharusnya begitu, namun hati merasa aneh memikirkannya, sedih dalam keluarga.
Tak tahu lagi, apakah benar keluarga adalah prioritas utama, atau sekedar slogan yang keluar dari lisan semata. Mungkin dan memang niat itu benar adanya, mencintai keluarga, lebih daripada yang lain. Tapi kenyataannya dalam pandangan mata, itu hanya kata-kata. Banyak yang kurang percaya, tempat curhat bukan disana, waktu bermain juga tak sama, membuat keluarga itu dekat di mata jauh di hati. Melihat dan bersama mereka hanya sebuah formalitas sehari-hari, tanpa ada yang memberi sebuah arti yang lebih penting yang mustahil ditemukan di tempat lain. Atau mungkin semua hanya keegoisan diri ini, yang suka menuntut lebih dari apa yang telah diberi. Belum bisa merasakan yang terlihat, namun tak terlihat.
Berasa keluarga, sudah cukup bagi hati yang haus kasih ini. Kasih cinta mereka, tentu bukan sekedar memberi apa yang dirasa nikmat saja. Bukan sekedar uang dan makanan yang selalu hampir tak pernah memuaskan nafsu dunia. Bersyukur apa adanya, merupakan pilihan yang terjelaskan lebih baik, namun sangat sulit dalam penerapan. Padahal mengeluh memang bukan sebenar-benarnya jawaban, hasrat saja yang cenderung memilihnya, yang sebenarnya ditolak oleh hati yang paling dalam. Konklusi yang diambil seharusnya mudah saja. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Semoga kedepannya, berasa keluarga tampak abadi selamanya. Bukan hanya di bayang-bayang dan refleksi mata, tapi terasa di hati sehingga awet berkelaluan.
Waktu yang terbilang lama, dihabiskan dengan mereka. Setiap jiwa yang sedarah daging, saling merasakan apa yang dirasa anggota keluarganya yang lain. Rasa itu pernah ada, ketika saat dimana masalah dunia belum serumit sekarang ini. Yang disebut 'kekeluargaan' itu pernah nyata, namun sekarang seringkali berpindah dengan sengaja tanpa sebab yang mau untuk dimengerti. Hanya dengan tahun-tahun yang berbeda, kesenjangan mulai ada. Walau memang seharusnya begitu, namun hati merasa aneh memikirkannya, sedih dalam keluarga.
Tak tahu lagi, apakah benar keluarga adalah prioritas utama, atau sekedar slogan yang keluar dari lisan semata. Mungkin dan memang niat itu benar adanya, mencintai keluarga, lebih daripada yang lain. Tapi kenyataannya dalam pandangan mata, itu hanya kata-kata. Banyak yang kurang percaya, tempat curhat bukan disana, waktu bermain juga tak sama, membuat keluarga itu dekat di mata jauh di hati. Melihat dan bersama mereka hanya sebuah formalitas sehari-hari, tanpa ada yang memberi sebuah arti yang lebih penting yang mustahil ditemukan di tempat lain. Atau mungkin semua hanya keegoisan diri ini, yang suka menuntut lebih dari apa yang telah diberi. Belum bisa merasakan yang terlihat, namun tak terlihat.
Berasa keluarga, sudah cukup bagi hati yang haus kasih ini. Kasih cinta mereka, tentu bukan sekedar memberi apa yang dirasa nikmat saja. Bukan sekedar uang dan makanan yang selalu hampir tak pernah memuaskan nafsu dunia. Bersyukur apa adanya, merupakan pilihan yang terjelaskan lebih baik, namun sangat sulit dalam penerapan. Padahal mengeluh memang bukan sebenar-benarnya jawaban, hasrat saja yang cenderung memilihnya, yang sebenarnya ditolak oleh hati yang paling dalam. Konklusi yang diambil seharusnya mudah saja. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Semoga kedepannya, berasa keluarga tampak abadi selamanya. Bukan hanya di bayang-bayang dan refleksi mata, tapi terasa di hati sehingga awet berkelaluan.
"Keluarga seharusnya menjadi tempat spesial yang benar-benar berbeda terasa dibanding dengan tempat biasa."
Ø Berasa Keluarga
Reviewed by max
on
23.11.00
Rating:
Reviewed by max
on
23.11.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..