Ø This is for ME




اتامرون الناس بالبر وتنسون انفسكم وانتم تتلون الكتاب افلا تعقلون
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (Q.s. Al-Baqarah [2]: 44)

Ata’muruuna an naasa bi al birri wa tansauna anfusakum
Wa antum tatluuna al kitaab
Afalaa ta’qiluun
                                 
Alhamdulilahirabbil’aalamiin.
Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhuu wa rasuuluh.
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Ayat itu adalah surah Al-Baqarah ayat 44.

Dimana intinya ayat ini menceritakan tentang ata’muruunannaasa bil birri, mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, wa tansauna anfusakum, sedang kamu melupakan kewajiban kamu sendiri? Wa antum tatluunal kitaab, padahal kamu membaca Al-Kitab (di mana di ayat ini yang dimaksudkan adalah kitab taurat yang dipegang oleh Bani Israil, afalaa ta’qiluun, maka tidaklah kamu berpikir?

Sebetulnya secara singkat ayat ini bercerita tentang seseorang atau mungkin orang-orang yang sering, mereka mempelajari ayat-ayat Al-Quran atau mungkin ayat-ayat dari kitab, setelah itu mereka memberitahukannya kepada orang lain tapi mereka lupa kewajiban mereka sendiri.

Mungkin ini akan nyambung juga nanti sama pembahasan surah Ash-Shaff di mana Allaah berkata bahwa kabura maqtan indAllaahi an taquuluu maa laa taf’aluun, sesungguhnya Allaah membenci seseorang yang berkata apa yang dia tidak kerjakan.

Dan dari ayat yang singkat ini, dari ayat yang singkat dan pendek ini kita bisa mengambil banyak pelajaran banget.

Beberapa poin yang akan digarisbawahi adalah:

Seharusnya ya ketika kita pergi mempelajari, baca Al-Kitab, kitab Allaah dimana Allaah berfirman dalam ayat tadi, wa antum tatluunal kitaab, padahal kamu membaca Al-Kitab, padahal kamu yang baca, padahal kamu yang bawa Al-Kitab tersebut, dan di penggalan kata sebelumnya Allaah bilang, “Kenapa kamu nyuruh orang lain melakukan kebaikan, sedangkan kamu sendiri melupakan kebaikan tersebut?”

Maka harusnya ya, kalau kita pergi mempelajari kitab Allaah, maka seseorang yang harus pertama kita pikirkan adalah diri kita sendiri. Karena kemudian banyak banget hari ini kita menemukan orang-orang yang mempelajari ayat-ayat Allaah, hanya semata-mata buat pidato, atau mungkin buat ceramah. Dan ini jadi ujian yang besar bagi orang-orang yang sering ceramah kayak A’ Rizal, atau mungkin kayak kang Ghazi sendiri.

Banyak orang yang membuka ayat, menggarisbawahi ayat, stabiloin ayat, mungkin nge-highlight ayat, tujuannya cuma buat, “Kayaknya ayat ini bagus nih deh kalau saya simpen di ceramah saya.”

Atau ada juga kasus yang lain di mana orang tersebut nyari ayat untuk menghakimi dosa temennya. Ini banyak banget masuk ke message akang, “Kang assalamu’alaikum, temen saya teh begini begini dan begitu, kira-kira ayat yang cocok buat DIA apa ya Kang ya? “

Jarang tuh ada orang yang message ke akang misalnya, “Kang saya teh lagi melakukan kesalahan ini dan kesalahan itu jangan bilang ke siapa-siapa ya, kira-kira ayat yang cocok buat SAYA apa ya?”

Which is okay gitu okay as long as alasan pertama kita mempelajari ayat itu atau menulis atau mengingat atau menstabilo atau menggarisbawahi ayat tersebut adalah sebab ayat itu punya manfaat besar buat kita pada pertama kali.

Yang harus diingat adalah setiap kita membuka lembaran baru Quran, atau membaca setengah ayat atau mengambil pelajaran baru entah dari hadits, entah dari buku entah dari mana pun, yang pertama kita pikirkan seharusnya adalah bagaimana ayat ini bisa sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.

Dan setelah kita tahu bahwa ayat itu bermanfaat buat kita, kita tahu ayat ini punya impact besar terhadap kita, barulah seharusnya kemudian kita berpikir,“Kayaknya ayat ini bagus deh kalau kita share ke kawan-kawan kita.”

Karena kalau kita tidak punya proses tersebut, pembelajaran kita kayak pembelajaran kosong.
Pembelajaran kita hanya sekedar teaterikal rutin yang kosong. Baca, belajar, ngerti bentar, kasih tahu orang, udah aja. Lupa.

Karena mungkin sewaktu-waktu kita bisa nge-impress orang lain dengan ilmu tersebut. Mungkin orang lain bisa merasakan tersentuh dengan apa yang kita sampaikan. Tapi ketahuilah semua yang kita lakukan itu bakal bernilai kosong banget, kalau pada awalnya kita tidak berkhusyu’-khusyu’ terlebih dahulu. Kalau pada awalnya kita tidak menyentuhkan diri kita terhadap ilmu tersebut yang baru kita ngerti.

Karena pada umumnya, seseorang tidak akan memiliki seseuatu lebih banyak dari seseorang yang memberinya. Kita hanya dapat memberi apa yang kita punya. Kalau kita ga punya kekhusyu’an, kalau kita ga punya penghayatan pada awalnya, kalau kita ga punya kedekatan terhadap ilmu pada awalnya, Gimana kita mau memberikan kepada orang lain kekhusyu’an, penghayatan, dan kedekatan terhadap ilmu.

Gimana kita bisa membuat kata-kata atau ayat-ayat yang kita sampaikan begitu menyentuh buat orang, kalau misalnya kita tidak menjadikan atau mendorong diri kita supaya tersentuh terhadap ilmu Allaah pada awalnya.

Maka pada akhir ayat Allaah berkata afalaa ta’qiluun, kenapa kamu tidak berpikir? Kenapa kamu nggak berpikir? Kenapa kamu nggak berpikir atas segala sesuatu yang kamu pelajari? Karena di banyak waktu, kita banyak belajar juga, tanpa paham kenapa kita harus belajar. Sering kan kayak gitu? Apalagi di pelajaran-pelajaran sekolah. Kita sering banget belajar banyak hal, dan kita ga tau kenapa kita harus belajar hal tersebut.

Makanya, mulai sekarang, setiap baca ayat Al-Quran atau mempelajari hadits baru, coba bayangkan deh, setiap ayat-ayat yang dibacakan, setiap katanya, setiap penggalan kalimatnya, setiap kata dalam katanya, anggaplah ayat itu ditunjukkan buat diri kita seorang dahulu, and then, anybody else.

Dan lebih dalam lagi kita bisa belajar dari ayat ini bahwa dalam kehidupan kita, kita nggak layak untuk banyak menyalahkan orang.

Di sini disebutkan wa tansauna anfusakum, dan kamu melupakan diri kamu sendiri.

Orang banyak berkata, “Lho kita nih begini karena pengaruh orang kafir, kita nih begini karena terlalu deket dengan si fulan, kita ni begini karena terlalu deket dengan kaum tersebut, kita ni begini karena terlalu deket dengan kelompok tersebut.”

Yang harus diinget, kamu, atau saya, kita sama-sama bertanggungjawab kok atas bagaimana kita membawa diri kita sendiri dalam menyikapi pengaruh-pengaruh buruk. Sangat tidak bijak untuk menyalahkan orang lain atas kerusakan yang ada pada diri kita.

Bahkan Abud Darda’ saat menyikapi ayat ini bilang, “Seseorang belum bisa menjadi seorang ahli fiqh sebelum ia menunjuk dan membenci kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, jauh lebih keras ketimbang ia membenci orang lain.”

Maka kesimpulannya, ketika kita mempelajari Quran, hal yang harus kita pelajari adalah: kita harus menjadi orang yang sangat introspektif, bukan malah menjadi orang yang sangat kritis dan ringan lisan terhadap kesalahan orang.

Coba introspeksi diri dari kesalahan apa, penyimpangan apa yang kita buat. Ayat Quran mana yang telah sengaja kita dustakan. Bukan sibuk menunjuk hidung orang lain yang boleh jadi kesalahannya tidak setebal dan seburuk kesalahan kita.

Ata’muruunannaasa bil birri, mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan,
wa tansauna anfusakum, sedang kamu melupakan dirimu sendiri?
Wa antum tatluunal kitaab, padahal kamu yang bersama-sama dengan kitab,

afalaa ta’qiluun, sehingga kenapa kamu tidak berpikir?

Watch on YouTube: https://youtu.be/w3MMt9VuYdQ
Download audio: http://bit.ly/1QRkk31
______________________
Speaker: Ghazi Azhari
YouTube: PARADISEAN YOUTH
Ø This is for ME Ø This is for ME Reviewed by max on 05.00.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.