Ø Preston Melbourne Ep. 0 - Pembukaan


KAJIAN PRESTON MELBOURNE EPISODE 0 – PEMBUKAAN (ABU TAKERU)


Nabi SAW. Bersabda: “Barangsiapa yang Allaah kehendaki kebaikan untuk dirinya, Allaah akan membuat dia paham terhadap ilmu agama.” (HR. Muslim) 
Ini adalah ciri orang yang oleh Allaah diberi hidayah dan menghendaki kebaikan untuk ummatnya. Karena jika seorang tidak mempelajari ilmu agama, dia tidak akan mengerti mana yang halal dan yang haram.
Nabi SAW. Bersabda: “Barangsiapa yang hadir ke masjid untuk mempelajari kebaikan (ilmu Islam) atau mengajarkannya, maka bagi dirinya pahala Haji yang sempurna.” (HR. Thobroni)
Seorang sayyidah berkata dalam awal pembahasan kitab Tazkiyatun Nafs, beliau berkata bahwasanya ilmu Islam itu lebih baik dari ilmu kedokteran, namun janganlah kalian mengira bahwasanya kami meremehkan ilmu kedokteran.

Sesungguhnya ilmu kedokteran, itu sangat bermanfaat bagi orang banyak. Orang yang berzina tetapi dengan ikhlas memberikan minum kepada anjing saja mendapatkan ampunan atas dosa zinanya. Bagaimana dengan dokter? Yang dengan izin Allaah dapat menyembuhkan orang sakit dan menyelematkan orang dari kematian, tentu pahalanya besar sekali. Namun tetap, mempelajari ilmu Islam pahalanya melebihi belajar ilmu kedokteran. Sekali lagi, bukan berarti ini meremehkan ilmu-ilmu yang bermanfaat lainnya. Karena jika kalian paham ilmu kedokteran, ilmu teknik, dan ilmu bermanfaat lainnya sekaligus paham ilmu Islam yang dalam, tentu itu bisa menjadi ladang dakwah yang besar. Maka kita sama-sama bekerja sama. Kalian bisa pelajari ilmu-ilmu yang kalian tekuni, tapi jangan lupa untuk belajar ilmu Islam. Karena dengan begitu dakwah kita bisa menyebar di bidangnya masing-masing.

Tentunya untuk dakwah, kita harus punya modal. Modal dakwah adalah ilmu Islam. Tidak hanya cukup dengan semangat, tapi tidak mengerti ilmu Islam. Misalnya jika kita nanti ditanya oleh orang lain tentang hukum halal dan haram, kita malah bingung. Lalu bagaimana caranya berdakwah? Apakah langsung “der-der”? Nah, kita juga tentu harus belajar ilmu tentang cara berdakwah, kan.

Karenanya dengan kajian terstruktur ini in syaa Allaah A Rizal berusaha menyebarkan kebaikan. Semoga Allaah menjaga hati A Rizal dan semoga teman-teman pun bisa mengikuti ini dengan serius.

Sekarang, A Rizal ingin menyampaikan beberapa masalah yang ada di sekitar kita. Tentu saja masalah bukan hanya untuk diabaikan, bukan juga untuk dijelek-jelekan, tapi untuk diluruskan.

Masalah tersebut adalah:

1. Sebagian di antara kita, mempelajari ilmu Islam, tapi tahapannya salah. Kita malah memahami ilmu-ilmu Islam yang sifatnya cabang. Ilmu-ilmu Islam yang sifatnya cabang ini, pasti memiliki banyak perbedaan di antara para ulama. Contoh: masalah qunut Shubuh, rukuk, sujud, dll. Ini semua perlu dipelajari, namun jangan lupa hal-hal tersebut adalah ilmu-ilmu Islam yang sifatnya cabang, sehingga wajar jika masih banyak perbedaan. Selama masih memiliki dalil, maka kita pelajari yang paling dalam, kita pilih mana yang paling sesuai dalilnya. Setelah itu kita amalkan dan juga toleran terhadap pendapat yang lain. Adapun ilmu tentang fundamental Islam, maka kita semua harus sepakat. Banyak di antara kita yang mungkin salah dalam mempelajari ilmu Islam, keliru, tentunya bukan untuk diejek. Sungguh kita bersyukur ketika Allaah sudah membimbing hambanya sudah senang memelajari ilmu Islam. Namun kita harus mengerti tahapannya, belajar ilmu Islam itu harus dari yang fundamental (pokok), di mana semua ‘ulama sepakat akan hal ini. Mengapa? Karena, yang fundamental inilah yang akan menguatkan iman kita. Setelah kita belajar yang fundamental, kita bisa belajar yang cabang, seperti qunut, dll. Tidak ada yang tidak penting dalam ilmu Islam, tapi tingkatan pentingnya berbeda. Kita harus mempelajari yang fundamental ini dengan benar-benar dalam. A Rizal in syaa Allaah akan menyampaikan dengan lebih dalam tentang:

-          Rukun Iman;
-          Rukun Islam; dan
-          Ilmu Hal.
Mengapa penting mempelajari ilmu Islam yang fundamental terlebih dahulu dari ilmu Islam yang tingkatannya lebih rendah? Seperti ada adik mentor A Rizal, yang sudah murtad, keluar dari Islam, semoga Allaah memberi dia hidayah. Yang dia pelajari bukan Tauhid dulu, tapi justru belajar tentang cara bercinta yang Islami, pacaran Islami, dll. Ini kurang sesuai. Seharusnya jika baru mulai senang mempelajari ilmu Islam, kita harus mempelajari mulai dari yang paling penting dulu, kemudian baru yang lain-lain. Ujung-ujungnya, setelah dia mendapat bisikan dari teman-temannya yang berada di aliran sesat, akhirnya dia murtad. Subhanallaah, semoga dia mendapat hidayah dari Allaah SWT.

2. Lalu, ketika kita mempelajari ilmu-ilmu yang kurang fundamental, kita sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kurang penting, contoh: “A Rizal, bagaimana ya hukumnya shalat di Bulan? Menghadapnya ke arah mana?” Ini seharusnya tidak terlalu penting untuk ditanyakan, karena kita kan tidak akan ke bulan. Atau ada lagi yang bertanya, “A, kalau kita shalat di Kutub Utara gimana ya? Wudhunya gimana ya? Nanti susah dong nentuin waktu shalat Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya.” Akhi, untuk apa bertanya? Seharusnya yang bertanya tentang hal tersebut adalah orang yang berada di sana. Sementara kita yang berada di Indonesia tidak perlu terlalu banyak bertanya, seharusnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya tentang ilmu-ilmu yang tidak akan kita amalkan. Kecuali, ilmu-ilmu mengenai hal-hal yang sebentar lagi akan kita amalkan. Contoh: Mas Edi yang lagi nginep di rumah A Rizal ini, dia ingin bisnis. Dia banyak bertanya tentang masalah bisnis. Itu boleh.


Adapun bertanya, “A, Ya’juj dan Ma’juj teh agamanya apa? A, Fir’aun teh istrinya berapa?” Untuk apa bertanya? Hal itu tidak terlalu penting. Nah, efek dari belajar ilmu yang kurang fundamental dulu adalah, kita malah sibuk bertanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting. Semoga Allah meluruskan.

3. Ini sangat penting nih, efek belajar mulai dari ilmu yang kurang fundamental dan efek jarang belajar ilmu yang fundamental adalah kita sering melontarkan komentar-komentar di media sosial dengan komentar yang sangat berbahaya. Mengapa bahaya? Karena kita ini ikut-ikutan dengan pendapat orang yang tidak mengerti, yang kita anggap baik sehingga kita jadi ikut komentar. Contoh: “Sudahlah, kita ini kan harus toleran dengan agama lain, kenapa sih ga boleh ngucapin selamat natal? Bukankah dalam agama kita harus toleran?”


Betul agama kita harus toleran, tapi ada batasannya. Karena kita tidak belajar ilmu pokok/fundamental, akhirnya kita tolerannya kelewat batas. Sampai ada saudara kita yang ikut ke gereja untuk merayakan Natal. Yaitu, golongan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang pemikirannya sesat. Dan orang-orang awam yang tidak mengerti ilmu fundamental akan ikut-ikutan. Nah, makanya kita harus belajar pokok-pokok agama nih.

Lalu, ada juga yang bilang, “Syi’ah itu gak sesat, Syi’ah mah hanya perbedaan mazhab, Syi’ah itu terbagi menjadi dua golongan, ada Syi’ah yang masih lurus, ada juga yang udah nyimpang. Jadi kalau misalnya ada orang Syi’ah, kita tidak boleh langsung bilang dia sesat. Syi’ah itu hanya perbedaan sedikit kok.”

Bahaya nih pemikiran-pemikiran seperti ini, sungguh ‘ulama seperti Yusuf Qordhowi, dulu memang beliau penah bilang bahwa Syi’ah itu tidak sesat, namun ketika beliau tahu lebih dalam tentang Syi’ah, maka beliau langsung taubat dan meralat ucapannya, “Syi’ah dan Sunni (Islam). Syi’ah dan Islam tidak akan pernah bisa bersatu.” Tuh kan seperti itu. Kalau para ‘ulama setelah mengetahui kebenaran, mereka langsung meralat ucapan mereka. Tapi sementara orang-orang seperti kita, sepertinya susah untuk meluruskan pemahaman kita kalau kita tidak mau mempelajari ilmu pokok agama. Banyak lagi komentar-komentar yang berbahaya, seperti masalah-masalah ketika Allaah mengharamkan sesuatu, yang jelas dalilnya, kita malah bilang, “Gimana dong kalau kita punya bakatnya di bidang ini? Kan kita ini punya bakatnya di bidang ini, kita gak punya bakat di bidang yang lain.” Seperti AllaaH tidak tahu saja (apa yang terbaik untuk kita). Komentar-komentar seperti ini kan bahaya. Karenanya, in syaa Allaah, kita akan mempelajari ilmu Islam dengan dalam.

Ingat ya akhi dan ukhti, sesungguhnya bisikan setan itu sangat banyak di dunia ini. Namun kita harus ingat bahwasanya Allaah berfirman, “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”

Namun mengapa di antara kita masih banyak yang mengikuti bisikan setan? Karena iman kita lebih lemah lagi dari pada tipu daya setan. Ibaratnya setan sudah menampakkan gigi-gigi taringnya, tapi sebenarnya gigi taring mereka itu tumpul. Cuman kalau iman kita ini selembek agar, ya gampang dihancurkan. Takeru saja yang belum punya gigi, bisa tuh makan agar kalau dikasih agar dengan dikunyah pakai gusinya. Habis. Kita pun sama. Setan itu lemah. Ini hanya perumpamaan. Gigi taring mereka itu tumpul. Tidak bisa untuk merobek iman yang kuat. Tapi kalau iman kita selembek agar, ya gampang dirusak. Tapi kalau iman kita sekuat pohon kurma, walaupun gigi taring setan itu sekeras pisau, tidak akan mungkin bisa menebangnya. Mari kita kuatkan iman kita.

Semoga manfaat.

Silahkan teman-teman untuk menyebarkan seluas mungkin.

Kesimpulan:
  • Nabi SAW. Bersabda: “Barangsiapa yang Allaah kehendaki kebaikan untuk dirinya, Allaah akan membuat dia paham terhadap ilmu agama.” (HR. Muslim)
  • Nabi SAW. Bersabda: “Barangsiapa yang hadir ke masjid untuk mempelajari kebaikan (ilmu Islam) atau mengajarkannya, maka bagi dirinya pahala Haji yang sempurna.” (HR. Thobroni)
  • Seorang sayyidah berkata dalam awal pembahasan kitab Tazkiyatun Nafs, beliau berkata bahwasanya ilmu Islam itu lebih baik dari ilmu kedokteran, namun janganlah kalian mengira bahwasanya kami meremehkan ilmu kedokteran (dan ilmu-ilmu yang bermanfaat lainnya).
  • Tapi tentunya untuk dakwah, kita harus punya modal. Modal dakwah adalah ilmu Islam. Tidak hanya cukup dengan semangat dan tidak mengerti ilmu Islam. Misalnya jika kita nanti ditanya oleh orang lain tentang hukum halal dan haram, kita malah bingung. Lalu bagaimana caranya berdakwah? Apakah langsung “der-der”? Nah, kita juga tentu harus belajar ilmu tentang cara berdakwah, kan. 

Masalah-masalah penting di sekitar kita yang sering diabaikan:
  1. Masalah pertama adalah kita belajar ilmu Islamnya bukan dari yang pokok/fundamental, tapi dari yang cabang, 
  2. Karena kita jarang belajar ilmu yang pokok/fundamental, akhirnya kita sering bertanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas.
  3. Karena memulai belajar dari ilmu yang tidak fundamental dan jarang belajar tentang ilmu yang fundamental tersebut, kita sering melontarkan komentar-komentar berbahaya di media sosial.

_______________________________
*N.B: Ditulis oleh Ilham Fajar Septian
Ø Preston Melbourne Ep. 0 - Pembukaan Ø Preston Melbourne Ep. 0 - Pembukaan Reviewed by max on 05.00.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.