‎Ø Cinta Manusia




Bismillahirrahmanirrahim.

Di kelas saya, sedang ada rumor-rumor cinta (baca: suka) antara lelaki terhormat terhadap perempuan yang... bisa dibilang, apa ya... hebat mungkin haha. Mungkin berawal dari dia sendiri yang membicarakannya dengan teman-teman dekat. Setelah itu, gosip menyebar melalui mulut, sehingga potensi fitnah mudah terjadi. Dan, dia takut, tapi entah dia sendiri juga bilang dia memang 'suka'. Ah entahlah, saya tak mau mengira-ngira. Semua ini bahaya.

Cinta Manusia

“My bounty is as boundless as the sea, 
My love as deep; the more I give to thee, 
The more I have, for both are infinite.”  
― William Shakespeare, Romeo and Juliet
Cinta manusia itu banyak. Bukan sekedar antara lelaki ganteng dan perempuan cantik yang saling suka, kemudian sang pria menyatakannya lalu mengajaknya bergandengan, lalu si wanita menerima dengan--pura-pura--malu-malu, sehingga nampak sangat romantis kejadiannya. Lalu mereka jalan bareng, aktivitas bareng, chat bareng, makan bareng, dan lain-lain bareng sampai cinta mereka meningkat. Entah apa yang terjadi pada akhirnya.

Cinta manusia itu terbatas. Kalau yang satu sudah tidak cinta, ia akan putus. Kalau yang satu sudah sakit hati, ia akan lemah. Ketika parameter cinta tidak jelas, ia akan ternodai. Saat dibataskan pada nafsu manusia saja, ia akan busuk. Romeo dan Juliet. Memilih mati demi cinta yang dikagumi. Menurut saya itu keren. Tapi, ada hal yang kurang di sana. Ada sesuatu yang mengganjal hati saya. Saya tahu itu bukan yang benar. Potret Rome dan Juliet menjadi generalisir terhadap cinta kebanyakan manusia. Mati dalam hal itu bukanlah solusi, ia hanya menjauhi dari ujian yang dihadapi. Bukan itu cinta yang asli, yang seharusnya terjadi. Mereka mencoba melewati batasan-batasan dan jadi lah cinta yang terlarang, dan memang terlihat keren. Tapi salah.

Mindset Cinta Dunia

"You're not in love, you're just hormonal."
 ― Nouman Ali Khan
Zaman sekarang, mindset cinta nampaknya telah berubah. Berawal dari pandangan pertama. Pandangan pertama dikira benar-benar ada cintanya. Lalu tak kenal maka tak sayang. Segera berkenalan untuk meningkatkan rasa cinta. Di sini sih saya mengiranya akan susah bagi orang-orang seperti saya, namun mudah bagi orang-orang yang 'normal' di zaman ini. Si laki-laki terbawa nafsu tapi membungkusnya dengan janji-janji suci. Sang tuan putri terayu dengan kata-kata manis darinya dan polos menerima dengan hati sangat terbuka. Sampai pada suatu waktu yang direncanakan oleh si pria, suatu ikatan yang menautkan dua hati. Entah selanjutnya bagaimana.

Mungkin ini bisa dibilang hanya menggeneralisir apa yang ada saja. Tapi memang di mata dunia, terlihatnya seperti itu, setidaknya di Indonesia. Kalau misal mindset ini sudah ditampakkan jelas dan diterima masyarakat dunia, habislah sudah. Kebenaran akan ditahan oleh kebathilan yang terorganisir. Cinta manusia jadi segalanya, terlebih cinta lelaki pada wanita yang diidamkannya--serta sebaliknya.

Cinta Yang Ada

“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.”  
(HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)
Itu kebanyakan hanya fitnah. Dan fitnah adalah salah satu kekuatan yang besar dalam dunia ini. Contohnya fitnah dajjal. Itu fitnah terbesar yang akan dialami oleh umat manusia. Banyak di antara kita yang menganggap itu benar-benar perasaan murni dan mulia dari hati. Tapi mungkin kita lupa pada kelupaan bahwa kebanyakan emosi (baca: perasaan) itu berasal dari nafsu, dan nafsu syahwat adalah nafsu yang kuat. Kadang bisa mengontrol diri kita. Membutakan mata, menggerakkan tangan dan kaki sesukanya saja. Cinta bukan satu jumlahnya. Apalagi yang seperti ini, hanya fitnah belaka.

Cinta pada Allah, kita lupakan. Cinta pada cintanya Allah, sang Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, kita abaikan. Cinta pada pewaris-pewaris Rasulullaah shallallahu 'alaihi wa sallam, kita lalaikan. Cinta pada orang-orang shalih di antara kita, kita main-mainkan. Cinta pada orang tua, kita hinakan. Cinta pada diri sendiri, kita cemasi. Cinta terlalu banyak untuk hanya difokuskan pada cinta pada lawan jenis saja. Bukannya meniadakan cinta tersebut, tapi mengingat akan kelupaan bahwa cinta tak seterbatas itu. Masih banyak cinta lain yang harus kita bagikan energi kepadanya secara adil, bukan berlebih pada yang satu-satu saja.

Aku Tak Kuasa Lagi...

"Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi, tapi ia mengerti, mendekat pada sang kekasih justru membinasakan."
 ― Salim A. Fillah
Terkadang ketika kita terjun ke dalam lumpur untuk mencoba bermain-main, kita ingin berlama-lama di situ dan menunda-nunda untuk keluar dan mandi membersihkan diri. "Sudah terlanjur dalam," katanya. Padahal kita tahu, interaksi antara seorang lelaki dengan perempuan akan meningkatkan rasa cinta dalam diri mereka. Seringkali disangkal, tapi ini fakta. Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta bukan hanya ada saat di awal, namun akan terus bertambah setiap kali berhubungan walau hanya sebuah chat kecil di malam hari yang berlangsung setiap hari.

Apalagi apabila rasa tersebut muncul di antara ikhwan dan akhwat kita dari rohis. Wah, rasanya sudah seperti pasangan yang perfect. Ikhwannya ganteng 10 SKPS (Satuan kegantengan per sekon kuadrat), shalih, pinter baca Quran, hafizh 10 juz. Akhwatnya juga cantik, hijabnya sya'ri panjang, kehormatannya terjaga, pemalu, cerdas, dsb. Apabila terjadi sebuah interaksi yang tak diinginkan di antara mereka, mungkin ada perasaan, "Toh kita udah lebih shalih kok daripada yang pacaran, gaakan pacaran lah paling cuma chat-chat-an doang da, woles." Hei, itu mengindikasikan bahwa kita tak percaya dengan takdir Allah yang telah menetapkan jodoh kita. Kita seakan-akan nge-booking si cewek atau cowoknya untuk dinikahi nantinya. Tidak, ini salah. Ini mengotori hati kedua-duanya.

Ketika sudah sadar bahwa itu bukanlah sebenar-benar cara untuk menyikapi rasa yang ada di dalam dada, dan yakin bahwa hal seperti itu hanya akan membawa pada kebinasaan bukannya kebahagiaan di akhirnya, maka kau takkan kuat lagi. Ingat, kita harusnya lebih cinta lagi pada Allah dan RasulNya shallallahu 'alaihi wa sallam. Buat dirimu lebih cinta kepada mereka terlebih dahulu, barulah kau sadar bahwa cinta yang terjadi pada dirimu itu (pada lawan jenis) bukannya membawamu ke surga, malah mungkin ke dalam neraka na'udzubillahi min dzalik.

Cinta Yang Bukan Utama

“Seperti Fathimah dan Ali, saling mencintai dalam kerahasiaan yang paling rapat, kepasrahan paling kuat, dan ikhtiyar suci yang menemukan jalannya...dengan karunia Allah!
Jika kita husnuzhzhan padaNya...” 
― Salim Akhukum Fillah, Agar Bidadari Cemburu Padamu
Cinta pada manusia itu adalah tingkat kesekian dari cinta-cinta kita. Bukanlah seorang Muslim apabila engkau mencintai seseuatu di atas cintamu pada Rabb semesta alam. Jangan sampai terjadi perkataan, "Aku mencintai Allah karena dirimu." Kita mencintai Allah karena Ia satu-satunya yang selalu siap melindungi dan menolong kita. Kapanpun kita minta. Engkau mencintainya karena Dia adalah Ar-Rahman, Ar-Rahim. Dia Mahaadil, Maha Memiliki Hikmah atas segala penciptaanNya, takdirNya, dan hukum-hukumNya. Maka cari tahulah siapa Dia. Dan seringlah berinteraksi denganNya.

Mungkin kau akan susah untuk langsung mencintai Allah. Bisa jadi kau akan mencintainya ketika tahu siapa yang telah Dia utus untuk merahmati seluruh alam. Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam namanya. Banyak dari kita yang tidak tahu banyak mengenai dirinya. Tak terkecuali saya, yang baca shirah Nabi cuma pas ada saja. Tapi mendengar tentang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dari orang lain, dari Al-Qur'an, dari hadits-hadits, dari ceramah-ceramah para ustadz, membuat hati bertanya, "Siapa sih sebenarnya orang ini? Kok ada orang kayak dia, ya?" Dan setelah kau mengetahui dan mengenalnya dengan seluruh kerendahan hati dan kejernihannya, pasti akan mencintainya.

Cinta manusia hanya karena cinta yang lebih utama

Boleh kita mencintai dia yang kita suka. Tapi dasarkanlah rasa sukanya pada sesuatu yang lebih utama. Yaitu karena Allah. Kita mencintai dan membenci sesuatu karena Allah. Apabila kita yakin dia dapat melengkapi kekurangan kita, melejit bersama berdakwah di jalanNya, dan akhirnya abadi kelak di surga, maka cintai lah dia. Karena Allah. Tautkan namanya pada do'a saja. Ikhtiar kita memperbaiki diri sendiri. Dan mendekat diri kepada Al-Wahhab, agar segala cinta bisa disikapi sesuai fitrah dan terjaga kesuciannya.

Wallaahu a'lam bishshawaab.

*referensi:
-Ceramah Abu Takeru "Episode tauhid 31-I love you"
‎Ø Cinta Manusia ‎Ø Cinta Manusia Reviewed by max on 18.47.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Tolong kritiknya yang banyak please..

Allah Semata Yang Maha Benar. Diberdayakan oleh Blogger.