Bismillahirrahmanirrahim.
Kejujuran. Sangat tak asing di telinga kita. Tapi begitu sulit untuk membersamai tiap-tiap manusia. Banyak yang berkoar-koar tentangnya, lebih banyak lagi yang memilih diam terhadapnya. Kalau kita lihat-lihat, jujur itu spesial. Karena itu ia mahal. Karena itu ia ditakutkan. Karena itu ia ditolak.
Apa kita lupa jujur itu mahal, karena dilakukan oleh orang-orang yang kaya saja. Kaya akan ilmu dan ‘amal. Lihat Rasul. Tiap orang yang mengenalnya tahu, dia Al-Amiin. Dapat dipercaya karena ia selalu jujur. Jujur menumbuhkan rasa percaya, dan dusta dapat menggerogotinya. Lihat Abu Bakr, ia dikenal Ash-Shiddiq. Membenarkan seorang—yang dikira pendusta—dengan segera. Mungkinkah hal itu dilakukan seseorang yang tak jujur? Umar. Ia sang Al-Faruq. Pembeda haq dengan yang bathil. Ada kah secuil kemungkinan, ia melakukan yang salah itu? Utsman. Ia pemalu, sangat-sangat malu. Sepertinya orang yang malu seperti beliau, yang bahkan malaikat pun malu terhadapnya, tidak mungkin berdampingan dengan dusta. ‘Ali. Ia seorang cendekiawan yang periang dan suka bercanda. Namun dalam candaannya pun ia tak menyelingkan kebohongan di dalamnya. Betapa mahal jujur ini, yang hanya bisa dibeli oleh iman dan hati yang bersih.
Apa kita lupa jujur itu ditakutkan, karena ia hanya bersama orang-orang yang berani. Orang-orang kuat, berani, mereka siap untuk mengambil jujur untuk diterapkan di kehidupan mereka. Orang-orang terkenal yang ada di dunia, mereka pasti orang-orang yang berani, dan sangat kecil kemungkinannya apabila mereka melakukan apa yang mereka lakukan dengan kebohongan. Jarang kebohongan dapat membuat manusia menjadi hebat. Orang-orang lemah yang takut, akan menjauhi kejujuran. Mereka tak bisa bertahan dengan kekuatan kejujuran karena ketakutan mereka sendiri yang lebih kuat. Mereka mengira resiko jujur sangat besar, yang padahal bohong lebih membuat parah seseorang. Jujur menjadi sesuatu yang ditakutkan untuk dilakukan, karena kebanyakan manusia memang makhluk yang lemah.
Apa kita lupa jujur itu ditolak, karena memang hawa nafsu menyuruh kita untuk tidak menghiraukannya, dan setan menggoda-goda untuk tetap bersama dengan dusta. Karena jujur itu lama hasilnya, sedangkan dusta cepat sajinya. Kebohongan seakan membawa kita menuju yang kita inginkan dengan cepat dan lebih mudah. Membuat hal itu menjadi lumrah untuk dilakukan dan diterima di kalangan manusia-manusia normal. Sedangkan jujur, sulit melakukannya, sakit menahannya, pedih membersamainya. Ia ditolak, karena dirasa bukan itu cara yang enak, bukan itu yang kita mau lakukan, ia ditolak hawa nafsu yang jahat, namun diterima oleh hati-hati yang jernih bersih.
Semoga kita termasuk orang-orang yang spesial—di mata Allah. Yang siap membayar mahal untuk melakukan kejujuran, yang berani untuk mengambil resiko kejujuran, dan yang menerima kejujuran itu setulus-tulusnya dengan kejernihan hati. Kalau kita belum termasuk di antaranya, semoga kita bisa ingat dan mencintai orang-orang seperti itu, mengiringi kisah kehidupan mereka, dan perlahan-lahan terciprat wangi kepribadian mereka yang harum.
Wallahu a’lam bishshawab.
Ø Jujur Aja?
Reviewed by max
on
20.14.00
Rating:
Reviewed by max
on
20.14.00
Rating:


jujur memang susah dan sangat mahal harganya
BalasHapus