Bismillahirrahmanirrahim.
Kesal. Sepertinya sudah sering terdengar di telinga ini, tuturan kalimat-kalimat tercurah dari berbagai teman sebaya. Berbagai dalih dan alasan keluar dari lisan teman-teman, membuat diri ini kadang terpengaruh olehnya. Orang zaman ini seringkali berharap pada sesuatu yang tidak perlu dipedulikan berlebihan. Sesuatu yang terlihat berada di ujung, bukan berarti segala yang ada. Kita dibutakan oleh apa yang ada di depan mata, karenanya. Adakala kita berpikir. Ketika usaha sudah dilakukan, namun hasil yang diinginkan tak kunjung datang.
Seorang insan sejatinya lupa. Waktu demi waktu diingatkan, tetap melupa. Walaupun demikian, terus dan akan terus diingatkan. Itu sudah sunnatullahnya. Yang Maha Tinggi telah sering mengingatkan, lewat firman-firman-Nya khusus untuk hamba-Nya manusia. “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu” (Q.s. At-Taubah [9]: 105). Dia tidak bilang bahwa Ia melihat hasil, sukses atau gagalnya, Yang Maha Melihat hanya akan melihat pekerjaan, proses dari ikhtiar kita. Sudah sering dilupakan, namun orang-orang shalih di sekitar akan senantiasa tetap saling menasihati dan mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, akibatnya. Sesekali kita merenung. Ketika usaha sudah sesuai dengan kemampuan, namun hasil tak pernah serasi dengan harapan.
Ujian terjadi di kehidupan kita, melintas dalam pikiran, melahirkan beban yang mengalihkan akal dan hati dalam bertindak. Hanya apabila gara-gara mayoritas orang melakukan, tak berarti kita harus terlibat di dalamnya. Apabila ujian memberatkan, orang sekitar menulikan, diri ini membisukan, dan hasil membutakan, semua terasa aneh. Tidak dapat menemukan ketenangan dan hikmah yang tersimpan di dalam bungkus yang disusun rapi oleh-Nya spesial untuk kita. Sebuah pilihan yang tak terjaga dari kesadaran, atasnya. Satu waktu kita dibuat meratap. Ketika usaha sudah dimentokkan, namun hasil masih tak bertemu dengan apa yang diangankan.
Padahal kalau saja kita tahu, betapa indahnya cara Sang Maha Cinta membangunkan kita, menyadarkan indera hati kita, menemui hikmah-Nya. Asal tahu saja, Dia menurunkan utusan-utusannya berupa manusia, sama seperti kita, mengemban tugas untuk menyeru di jalan-Nya, yang merupakan amanah serius, yang dipikul dengan segenap jiwa dan raga. Dalam Qur'an disebutkan “Kaburo ‘alal musyrikiina maa tad’uuhum ilaihi”. (Q.s. Asy-Syura [42]: 13). Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk menerima) agama (tauhid) yang engkau serukan kepada mereka. Saking beratnya, bahkan sudah bisa dibilang mereka tidak akan pernah masuk Islam. Tapi apa? “Falidzaalika fad’u, wastaqim kamaa umirta”. Maka karena itu serulah mereka pada agama dan tetap teguhlah sebagaimana diperintahkan kepadamu (Q.s. Asy-Syura [42]: 15). Rasul kita tetap berusaha.
Iya memang sulit. Iya memang berat. Iya memang melelahkan. Iya mereka memang akan ragu. Karena itu serulah mereka pada agama ini. Dan tetap teguhlah sebagaimana diperintahkan padamu, bukan karena mudah, bukan karena ringan, bukan karena keberhasilan yang kau dapatkan, bukan karena pujian, tapi karena diperintahkan padamu. "Fashbiru". Allah hanya menyuruh sabar. "Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?" Inilah bagian dari ujian itu. Lakukan yang terbaik bukan karena apa yang akan didapat, tapi karena perintah Allah. Hasil bukanlah buah dari apa yang kita usahakan, olehnya. Sekarang kita bersama bertafakur. Ketika usaha sudah terbaik, namun hasil tinggal begitu jauh dari impian.
Mengapa peduli, pada sesuatu yang tidak bisa digantikan. Perlukah terlalu mementingkan hasil yang dihadapkan pada akhirnya? Bisakah buah dari usaha kita dibangga-banggakan? Atau memang sejatinya jelas tidak akan bernilai, karena segalanya adalah takdir-Nya yang sudah lama ditentukan. Bukankah kita hakikatnya hanya seorang yang berusaha, bukan seorang yang berhasil ataupun gagal? Urusan Allah lah menentukan hasil, tak perlu kita campur tangan di dalamnya.
Sekali lagi, kita mengingat. Mencoba tuk menolak peduli. Pada apa yang sebenarnya bukan apa-apa. Bukan pikiran dan urusan kita mengenainya. Allah telah mengingatkan kita dengan beribu bahkan berjuta cara. Lewat kitab-Nya, nabi dan rasul-Nya, tanda-tanda kebesaran-Nya, dan dari diri kita sendiri. Dengan segala kabar gembira dan semua peringatan yang diturunkan-Nya. Sudah sepantasnya kita tahu dan bijak untuk memilih, apa yang sebenarnya penting untuk dipedulikan dan diperhatikan secara penuh. Bukanlah apa yang semu di hadapan mata, hanya rupa sekarang dan bersifat sementara, semuanya. Kita sama-sama menolak peduli terhadapnya, dan kembali bersyukur pada usaha, yang sering dilupakan oleh predikat hasil semata.
*referensi:
- http://henings.wordpress.com/2013/02/
- http://www.youtube.com/watch?v=eRxTnzbUyl8&gl=ID&hl=id
Ø Menolak Peduli
Reviewed by max
on
23.01.00
Rating:
Reviewed by max
on
23.01.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..