Bismillahirrahmanirrahim.
Haha, sebenarnya saya belum tahu banyak tentang hal ini, masih bocah. Tapi, pengen ngutip tentang istikharahnya, jadi sekalian aja satu pak full.
***
“Pernikahan adalah perkara
yang peka,” ujar ibunda kita, Aisyah Radhiyallahu
‘Anha,”terkembalikan pada masing-masing pribadi dalam meraih keberkahannya.
“Maka, setelah memahami bahwa memilih karena agama adalah suatu pengarahan dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
dalam hal yang batin dan rahasia, tiada tempat bersandar kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah yang dituturkan
Jabir ibn Abdullah Radhiyallahu ‘Anhuma.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajari
kami Istikharah dalam setiap urusan yagn kami hadapi sebagaimana beliau
mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang dari kalian
menghadapi soalan, maka rukuklah dalam shalat dua rakaat yang bukan shalat
wajib kemudian berdoalah:
Allahumma innii astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as’aluka min fadhlikal ‘azhiim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa a’lamu wa Anta ‘allamul ghuyuub. Allaahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii—atau fii’aajili amri wa aajilihi—faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrul lii fii diinii wa ma’asyii wa ‘aaqibati amrii—atau fii’aajili amrii waajilihi—fadhrifhu ‘anniy washrifnii ‘anhu waqdurliyal khaira haitsu kaana tsumma ardhinii.
Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan memohon ketetapan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang agung. Karena Engkau Maha Mampu, sedang aku tak mampu; Engkau Maha Mengehtaui, sedang aku tak tahu. Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku ini—beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti—maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah untukku kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya, ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku ini—atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti—maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja di mana pun adanya, kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu.” Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu,” (H.r. Bukhari)
Betapa indahnya doa
istikharah ini. Di dalamnya terdapat pembelajaran dan penghayatan tentang
tauhid, adab, dan juga tawakkal. Inilah kita para hamba yang lemah, dan itulah
Dia Rabb kita Yang Maha Sempurna.
Kita memohon pilihan
dengan ilmu-Nya, bukan pengetahuan kita. Sebab wawasan kita sedikit, terbatas,
tak melampaui yang terlihat, dan sering kali bias. Kita memohon ketetapan
dengan kuasa-Nya, bukan kekuatan kita. Sebab apalah daya kita, sedangkan cinta
adalah urusan hati. Dan semua qalbu para hamba berada dalam genggaman
Ar-Rahman. Dia yang membolak-baliknya, Dia yang mengaruniainya rasa, Dia yang
menganugerahinya cinta.
Di lapis-lapis
keberkahan, istikharah adalah amal kehambaan untuk mengawali bersusun-susun rasa
surga dalam serumah keluarga.
Imam Al-Qurthuby dalam
Al-Jami’ li Ahkamil Qur’aan berkata, “
Para ulama menyatakan, hendaknya dia mengosongkan hatinya dari semua pikiran
berkenaan dengan urusan yang akan dia hadapi agar hatinya tidak condong kepada
salah satu urusan sebelum dia beristikharah.”
“Kemudian,” lanjut
beliau, “setelah dia melakukan Istikharah, maka hendaknya dia memilih untuk
mengerjakan apa yang hendak dia lakukan dari urusan yang ia minta pilihan
pada-Nya. Jika merupakan kebaikan, maka—insya Allah—Ia akan memudahkannya. Jika
merupakan kejelekan, maka—insya Allah—Ia akan memalingkannya dari urusan
tersebut.”
Adapun wasilah
lanjutan yang dianjurkan untuk tepatnya pilihan dan indahnya kesudahan adalah
musyawarah. Sebab ia sebagaimana menyuling madu untuk mendapatkan sari yang
paling murni, pendapat-pendapat yang jernih dan tulus akan tersaring menjadi
kemantapan urusan. Maka bermusyawarahlah dengan mereka yang menjaga ibadahnya,
yang indah akhlaqnya, yang dalam ilmunya, yang khusyu’ dan tawadhu’.
“Takkan menyesal orang yang beristikharah. Takkan rugi orang yang bermusyawarah.” (H.r. Ath-Thabrani)
Kebingungan tersisa
yang datang di antara segala pilihan kebaikan, mari selesaikan dengan nasihat
Imam Asy-Syafi’i. “Jika beberapa pilihan yang semuanya kebaikan
membingungkanmu,” ujar beliau, “dan kau tak tahu yang mana pengundang ridha
Rabbmu, maka pilihlah yang paling menyelisihi hawa nafsu.”
Maka saatnya jujur
pada hati; agamalah pertimbangan utama. Yang selain itu, jika tercondong hawa
nafsu, pilihlah yang berlawanan. Jika kecantikan yang membuatnya berminat,
ambillah yang di seberangnya. Mengingkari hawa nafsu kan jadi jalan menuju
ridha-Nya. Adalah Hasan Al-Bashri ketika diminta menasihati ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz
beliau menulis, “Amma ba’du. Durhakailah
hawa nafsumu. Wassalam.”
Ø Perkara Pernikahan
Reviewed by max
on
06.30.00
Rating:
Reviewed by max
on
06.30.00
Rating:

Tidak ada komentar:
Tolong kritiknya yang banyak please..